Define Yourself

Who are you now or later, the choice is yours.

Sounds of Harmony

Maybe for once in a while you have to pay attention, even to the very simple thing in your life. Try to listen to the words that have to be listened. Maybe one day, You'll find that sound of harmony.

Power of Faith

Hope is something that easy to get, but hard to be held. If you never give up on your hope, it's not just people will acknowledge you but also God will rewarded you. There is nothing wrong about having Faith. Instead, having no faith is something like a lost man in nowhere. Don't you think?

Reason of Dream

Dream is like a whole empty sheat you have to fulfill so you can take your score and your star. Then your effort would be like a pen to help you fulfill your sheat. After that you'll realize "the all written sheat is actually the story of your life."

Taste of Life

"Love, Laugh, and Sincere," are always being the best feelings in life. But not to forget that "Hurt, Tears, and Regret" are always be the most precious thing which can teach you how to taste both the good and bad favours in your life.

Secret of Mind

If you want to be desperate, Just say "I am Useless!" and your spirit will be gone in no time. But if you REALLY want to be better, NEVER say such thing. Just say "I'm good enough, cos I am ME. No one can change." remember that God create you because of some reasons, some mission, something means you're NOT USELESS AT ALL. You have to find it on your own.

Jumat, 30 Januari 2015

Bad Things Happened Sometime

 
Bad things happened sometime...
----------------------------------------
Hal buruk kadang terjadi

Saya percaya, di dunia ini tidak ada orang yang senang mengalami hal buruk yang menimpanya. Beberapa orang mungkin akan merasa marah dan kecewa, dan beberapa lainnya mungkin akan menangis. Semua itu wajar, karena manusia harus mengeluarkan deru di dadanya sebelum itu meledak dan menyakiti dirinya dan orang lain. Tidak apa-apa, itu lumrah. 

Let out your feelings, it's okay to let go all of your sadness and anger. It's alright.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Keluarkan semua perasaan (yang mengganjal) itu, tidak ada salahnya untuk mengeluarkan semua kesedihan dan amarahmu. Tidak apa-apa. Lakukan saja jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Sebab, jika tidak dikeluarkan, semua emosi yang terbendung itu akan semakin terkumpul dan jika tidak dikeluarkan maka akan menjadi emosi negatif yang akan menyerang dirimu (tepatnya hatimu) dari dalam.

Walau begitu, ada beberapa orang yang memutuskan untuk tidak mengeluarkan segala rasa sakit (karena kesedihan, amarah, kekecewaan, penyesalan, dan lainnya) mereka karena berbagai alasan. Dengan kata lain mereka akan memendamnya sendiri. Orang-orang seperti ini termasuk orang yang tangguh, karena mereka ingin menanggung segala rasa sakit seorang diri. Tapi di sisi lain, mereka juga rapuh. Sebab orang-orang seperti ini bisa jadi menampung terlalu banyak rasa sakit seorang diri. Akibatnya mereka mungkin akan merasa tidak stabil di waktu-waktu tertentu, kehilangan kepercayaan kepada orang lain karena berbagai alasan, menjauh dari lingkungan dan dijauhi lingkungan tempatnya tinggal, dan sebagainya. Itu benar, mereka tertekan dari luar dan dalam.

Hal tersebut juga dapat mempengaruhi kepribadian mereka, entah itu baik ataupun buruk :

1. Mengisolasi Diri
 --- Karena merasa harus menanggung rasa sakit itu seorang diri, orang-orang seperti ini akan cenderung menarik diri dari lingkungannya. Kebanyakan akan memilih untuk mengisolasi diri dengan cara yang dapat menjadi tombak bermata dua baginya, yakni : menghilangkan bukti keberadaannya di lingkungan masyarakat sedikit demi sedikit. Dimana hal ini tidak hanya bisa membuatnya jauh dari masyarakat, tapi masyarakat juga akan menjauhinya.
--- Seperti yang kita tahu, umumnya masyarakat merupakan sekelompok orang yang cenderung bersatu karena suatu kesamaan yang kentara, dan memberi keuntungan yang sama, atau setidaknya tidak merugikan. Bagi mereka orang yang mengisolasi diri ini merupakan orang yang secara kentara membuat perbedaan diantara mereka, menjauh, dan kemungkinan membawa dampak buruk sehingga tidak perlu diperhatikan. Padahal itu tidak sepenuhnya benar. Orang yang mengisolasi diri tidak sepantasnya dibiarkan atau malah dijauhi, sebaliknya justru harus ada pendekatan supaya ia bisa kembali kepada realita. Bagaimanapun orang yang mengisolasi dirinya tadi juga manusia yang memiliki status "makhluk sosial". Dia akan kesulitan bertahan jika dibiarkan seorang diri. Selain itu, bukankah itu juga seperti membiarkannya mati dengan perlahan? Dimana kita tahu mati perlahan itu sakitnya luar biasa!

 2. Mengisolasi Perasaan
--- Hampir sama dengan kategori mengisolasi diri, bedanya disini adalah perasaan. Ia mengisolasi perasaannya, bukan keberadaannya. Apa mungkin? Tentu saja mungkin. Dalam kasus seperti ini, orang yang mengisolasi perasaannya memutuskan untuk 'tidak merasa'. Karena perasaan lelah, atau lainnya, ia memutuskan untuk memblokir segala jenis perasaan di dalam hatinya, menolak untuk mengakuinya, menyingkirkan segala ketertarikannya, mencoba bersikap biasa saja dimanapun ia berada, dan mulai menanamkan ketidakpedulian di dalam dirinya, hingga akhirnya muncullah suatu kepribadian yang kemudian sering kita sebut dengan "FLAT" atau "Ekspressionless". (Walaupun di dunia ini ada juga orang yang secara alami terlahir seperti itu, tanpa ada sebab khusus).
--- Namun ada juga jenis 'mengisolasi perasaan' yang orang-orang ini lakukan tidak bisa sepenuhnya terisolasi (tidak bisa menjadi FLAT atau Ekspressionless), namun cukup dengan bersikap 'angkuh' atau acuh tak acuh.

3. Mencari Perhatian
--- Siapa yang tidak senang diperhatikan orang banyak ketika mereka sedang terpuruk? Ada dua alasan kenapa orang-orang ini senang mencari perhatian. Yakni : pertama, karena hal itu merupakan pelarian dari dunia kecil mereka yang penuh dengan keterpurukan dan ketidaknyamanan. cara sederhana untuk mengalihkan perhatian mereka sementara waktu. kedua, orang-orang ini termasuk golongan yang 'all out' atau dengan kata lain sangat suka mengumbar apa yang mereka rasakan. Reaksi atau perhatian yang mereka dapatkan dari mengumbar semua perasaan membuat mereka kian senang, seolah membuktikan bahwa ia pantas mendapatkan perhatian dunia.

4. Bersikap Kasar
--- Kadang, orang bersikap kasar itu bukan karena mereka mau melakukannya, tapi karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka tidak tahu harus dengan cara apa mereka bergaul dengan orang sekitrnya. Sebab, pengalaman buruk membuatnya belajar menjadi pribadi yang tangguh. Karena sikap tangguhnya inilah (yang kemungkinan terlalu tangguh), membuat perilakunya tanpa sadar ikut terpengaruh.

 Itulah tadi beberapa perubahan utama yang mencolok. Bisa jadi ada lebih banyak lagi jika kita mau menelaahnya lebih jauh. Tapi jangan khawatir, keempat hal tersebut walau terdengar ekstrim bukan berarti seburuk yang terdengar.

Like said, "Shit Happened In A While". But don't worry, "Good Things Comes After While"
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Seperti yang sudah dikatakan, "Hal Buruk Kadang Terjadi". Tapi jangan khawatir, Hal Yang Baik Datang Setelahnya.

Apa yang dibutuhkan hanyalah "Yakin", "Tabah", dan "Ikhlas". 
........................................................................................................................................
"Yakin".. kalau ada hal baik pasti akan datang setelahnya.
--- Sudah pernah dengar kalau setiap apa yang kita ucapkan akan mempengaruhi pikiran kita, kan? Kalau kita berbicara secara yakin kita akan gagal, maka kegagalan itulah yang akan kita dapatkan. Sebaliknya, kalau kita yakin kita akan sukses, maka walau harus gagal ratusan kalipun pada akhirnya kita akan menemukan kesuksesan itu dengan gemilang bahkan berlipat ganda. Well, Yes, Like said, "setiap ucapan itu adalah do'a."

"Tabah".. setiap kali ada kemalangan yang menimpa kita.
--- Selayaknya kesuksesan yang tidak akan datang hanya dengan menjetikkan jari, maka solusi dan segala hal baik lainnya pun juga begitu. Kita hanya perlu tabah sambil terus berjuang keras.

"Ikhlas".. atas apa yang akan kita peroleh maupun apa yang hilang dari kita.
--- Harga dari kebahagiaan adalah kesengsaraan. Kita harus sengsara terlebih dahulu sebelum kita tahu apa itu yang namanya kebahagiaan. Selalu ada harga yang harus kita bayar sebelum kita mendapatkan apa yang kita inginkan. "Memberi-sebelum diberi" mungkin gambaran paling sederhana dari hal tersebut. Lalu, apa hubungannya dengan Ikhlas? Mudah saja, ikhlas merupakan bentuk dari kerelaan hati. Semakin kita rela dengan apa yang kita lakukan, semakin mudah dan menyenangkan kita menjalankannya, sehingga semakin cepat pula kita menyelesaikan apa yang kita mulai. Itulah gambaran sederhananya. Jadi, daripada terus-menerus mengeluh tanpa henti, dimana itu juga bisa menghambat diri sendiri, kenapa kita melakukannya dengan ikhlas saja. Jalani saja. Ingat, semakin kita ikhlas, semakin terasa menyenangkan apa yang kita kerjakan, dan semakin nikmat hasil yang kita dapat.
.......................................................................................................................................

Yes, reality is cruel. But isn't hurting yourself is cruel too?
-------------------------------------------------------------------------
Realita itu memang kejam. Tapi bukankah menyakiti diri sendiri juga kejam?

Jadi, ayo berhenti melarikan diri dari kenyataan. Toh, tidak ada gunanya kita mengeluh ini dan itu sampai-sampai mengutuk dunia. Mengasihani diri sendiri juga bukan hal yang akan kau lakukan, kan? Kecuali kalau mau terpuruk selamanya. (No offense.)

Ada sebuah lagu yang enak didengar, dan merupakan nasehat yang patut untuk kalian, tidak, maksudku, kita pikirkan matang-matang.

"It's Amazing" by Jem

Do it now
You know who you are
You feel it in your heart
And you're burning with ambition

At first, wait,
Won't get it on a plate
You're gonna have to work for it harder and harder

And I know
'cause I've been there before
Knocking on the doors with rejection (rejection)
And you'll see
'cause if it's meant to be
Nothing can compare to deserving your dream

[Chorus:]
It's amazing,
It's amazing all that you can do
It's amazing,
Makes my heart sing
Now it's up to you

Patience, now, frustration's in the air
And people who don't care
Well, it's gonna get you down

And you'll fall (fall)
Yes, you will hit a wall
But get back on your feet
And you'll be stronger and smarter

And I know
'cause I've been there before
Knockin' down the doors,
Won't take "No" for an answer
And you'll see
'cause if it's meant to be
Nothing can compare to deserving your dream

[Chorus]

Oh-oh-o

[Electric voice:]
Don´t be embarrassed, don´t be afraid
Don´t let your dreams slip away
It's determination and using your gift
Everybody has a gift
Never give up, never let it die
Trust your instincts and most importantly
You´ve got nothing to lose
So just go for it

[Chorus 2x]

Ah-ah-ah 


Jadi itulah dia.. Hal Buruk memang terjadi, tapi jangan menyerah. Teruslah berusaha dan kau akan jadi lebih tegar, dan tangguh. Karena disana, ada hal baik yang sudah menunggumu.



Rabu, 07 Januari 2015

Going To College

Sebentar lagi kelas 12, kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Aaa..~ betapa cepatnya waktu berlalu *membik-membik. Ah, sudahlah, bukan saatnya untuk galau. Start Now, I need to make up my mind. Where should I go? Which one should I choose? Atau lebih seperti "What will I be."

Ibu sama Ayah sempat menyarankan ke kedokteran, sih. Tapi maafkan daku, Ayah, Ibu. Daku tidak bisa. Daku takut. Daku merasa tidak mampu. Bukan karena tanggungjawabnya yang membuat daku takut, tapi ketakutan kalau-kalau daku tidak cukup terampil untuk membantu menyembuhkan orang yang sakit. Bagi daku, itu seperti diantara garis menolong dan mempermainkan nyawa *lebay kamu, nak! Ya, intinya... Sepertinya, mental saya tidak siap.

Ada banyak hal yang saya takutkan, seperti. (Ya, walaupun.. Ketakutan seperti ini bisa dikatakan MUTLAK SALAH. Karena ini termasuk SUGESTI NEGATIF. Jadi, MOHON JANGAN TIRU SAYA.)
1. Bagaimana kalau saya tidak mampu menganalisa jenis-jenis penyakit? Pelajaran biologi tentang jenis-jenis hewan prokariotik dan eukariotik kemarin itu aja dah lupa. Sebagian besar ga begitu paham malah. *he? Terus yang ente faham ava kalo begono ceritanya? Hadeeh...hadeeh... x.x"
2. Bagaimana kalau saya tidak paham jenis obat, resep, aturan pakai, dosis, dan apalah itu yang lain! Gimana nasib pasien saya? T.T
3. Bagaimana kalau saya salah menganalisa lalu keceplosan? Emm... Ga usah dikasih contoh ya? I think it's kind of rude. Intinya, salah memvonis ga lucu kan?! -__-"
Dah, tiga itu aja deh.

Huwee~ what should I do? I'm confused, afraid, and excited! What a complicated feelings.

But... Well, yeah, actually.. Aku sudah punya beberapa pilihan walau NGGAK terlalu nyambung.
1. STMM "MMTC" Yogyakarta
---- Okay! It's true kalau saya enggak terlalu pintar (matik saya dongkol weh.. Apalagi fisika. Pokoknya segala macam hal yang dibuat ribet dengan rumus *dih, emang elunya yg ga bisa kalee!! Malah nyalahin rumus* Saya K.O!) Tapi walau begitu, saya suka multimedia. I don't know why. Rasanya itu "Wah" aja, atau mgkin karena sayanya saja yang suka utak-atik ga jelas.

2. Psikologi UI atau UGM
---- Alasannya simpel aja. Yakni karena saya suka mempelajari hal-hal tentang kehidupan bermasyarakat. I realize that people can't live alone. So, I want to know about every single one I met. To talk a bit, to interact a bit more.. Walau sejatinya saya lumayan introvert.

Tapi... Saya mau coba ikuti semua testnya. Yes, that's right! SBMPTN. And I'll see which one that is right for me. Ah, dan untuk Ibu. Aku akan mencoba jurusan itu untukmu.

Jumat, 26 Desember 2014

Orchid

My mother's Orchid

Rabu, 03 Desember 2014

Reflection

The same knives thrown
to the same target.
End up with the same result.
Again.
Or is it getting worse?
What a shame.
Again,
As expected.

Again,
I see those wings,
And butterflies.
How beautiful!
Is it a party?
They seems having fun,
"Laugh"
"Laugh"
And "Left"

So here I go,
Decide to pick some leaves.
I wonder I shall come back later.

The Moonlight still as bright as ever
Even the stars get brighter.
And so around that river,
Again,
That person, without reason,
That gloomy face,
Smiling in the dark.

Again,
That person just smiling.
Again,
I'll just sit still or stay.
That person,
Again, whispered
"You'll regret."

Then, Again,
I smiled. "I won't"
"I were."
"I already am."
"Playing on a circle."
Again,
"You know why."

Again,
That person,
That gloomy face,
That half-empty gaze,
Smiled...
"You're stupid!"

I smiled.
I laughed.
I whispered.
"I know." I said.
"The only thing I have..."
" From the past, now..."
I wonder,
If it is until the future,
"Is that..."

That person,
Again,
Smiled. "Reflection."

Gita Ardeny,
December 3rd, 2014
1:04 p.m.

Kamis, 06 November 2014

Ternyata BSE itu mudah!

November 6, 2014

Tadi, saat pelajaran bahasa Inggris (setelah pembagian LKS), ada salah satu komentar teman saya yang sukses membuat saya penasaran. Komentarnya itu sederhana sebenarnya, "Kenapa ya kok LKS yang tersambung internet itu mahal?" katanya. Awalnya saya biasa saja. Alasan pertama yang muncul di kepala saya adalah, "Entahlah. Bukannya harganya memang seperti itu?" maksudku, kupikir itu terserah orang yang menjual.

Lalu kemudian ketika sampai di rumah tiba-tiba terpikir. "Iya ya. Rata-rata buku yang tersambung ke internet itu lebih mahal dari yang biasa. Tapi kenapa?" Dan pertanyaan itu belum terjawab.

Karena pertanyaan itu, dengan seenaknya saya membuat asumsi pada diri saya sendiri. Buku yang tersambung internet itu mungkin buku yang supaya mudah dijangkau banyak orang. Itu artinya internet digunakan untuk distribusi juga ya? Jangan-jangan di internet itu filenya juga suruh beli, dan jangan-jangan malah lebih mahal. Hadeeh...

Belum sampai di situ, tiba-tiba saya teringat dengan teman saya yang mempunyai buku fisika yang baru (kurikulum 2013 juga kalau tidak salah). Katanya harganya hampir Rp. 100,000,00 (seratus ribu). Wah, bayangkan itu. Bagaimana yang di online coba?

Hingga, oh, sehingga pada akhirnya saya dengan isengnya coba mencari di internet. Seingat saya, seseorang (kalau bukan teman ya guru) pernah bilang kalau buku paket yang kami gunakan itu ada di internet. Jadi, kalau buku paket belum ada ya kita bisa langsung download saja. Gratis, cuma modal kuota internet. Tapi sayangnya saya kurang yakin. Jadi, saya dengan iseng dan keingintahuan saya mencoba untuk membuktikannya. (ea!)

Saya mengetikkan "download BSE k-13" di kotak search google. Yang keluar ternyata cukup banyak macamnya (biasalah si mbah google. Pengetahuannya terlalu luas, jadi opsinya banyak). Tapi, alhamdulillah ketemu website aslinya.

Awalnya pas liat halaman awal itu seperti "Wuih... Keren! Tampilannya simple tapi fresh." terus ada juga gambar buku yang isinya: buku kurikulum 2013, buku elektronik apa gitu , kpk, dll. Lalu saya klik yang k-13. Beberapa saat kemudian (setelah nunggu internet loading yang rada lemot) di sana ada hampir semua folder berisi kelas, dimana ketika diklik nanti langsung muncul ikon buku mapel yang berbeda. Saya sedikit takjub. "Subhanallah, lengkap..." gumam saya. Kemudian saya coba download buku yang matematika.

Pas saya klik untuk mendownload itu, mula-mula tidak ada yang terjadi. Spontan saja saya klik lagi. Harapan saya sih bisa mendownload dengan gratis. Tapi mungkin karena koneksi internet saya yang sedikit... Entahlah bagaimana mendeskripsikannya, tiba-tiba di download-an itu ada dua file sama yang sedang menunggu beberapa detik lagi untuk menuntaskan download. Pas itu, saya sedikit bingung. "Loh, udah? Gitu aja?" kata saya. Sebelumnya sempat tidak percaya, "Jangan-jangan yang kedownload cuma sampulnya." pikir saya. Tapi setelah saya teliti ternyats lengkap. Wah, simple sekali BSE ini! Gampang dan gratis lagi. Cuma modal internet.

Okay, rasa penasaran saya terobati untuk sesaat. Sampai kemudian rasa penasaran itu muncul lagi begitu mendapati ada semacam icon yang menunjukkan kalau BSE bisa diunduh lewat aplikasi di hape, lewat play store. Canggih!

Saya coba download. Terus terang, saya tidak begitu tahu aplikasinya apa, jadi saya hanya menulis "BSE" di kotak search. Tidak begitu lama, ada aplikasi berjudul "Buku BSE" di daftar pertama. Saya yakin pasti itu aplikasinya, berhubung yang di bawahnya itu ada aplikasi dengan tulisan "BSE India..." yang saya tidak yakin aplikasi apa itu.

Selesai didownload, saya coba buka aplikasinya. Ternyata susunan direksi (atau apalah namanya) sama seperti yang di website biasa. Tapi kali ini saya coba mendownload buku prakarya berhubung mapel prakarya saya tidak ada buku paketnya. Dan... Voila! Tidak sampai bermenit-menit, apalagi berjam-jam, si buku sudah masuk file download secepat kilat, mudah, dan sederhana.

Ternyata praduga saya salah. BSE itu lebih mudah dan murah. Saya senang. Jadi, suatu hari kalau bukunya belum datang, atau adik saya butuh buku-buku k-13 atau lainnya, bisa saya cari di BSE. Top dah! Top pokoknya... Ga usah repot bin bingung kesana kemari, buku yang dicari (selama ada tulisan BSE di bukunya) bisa dicari di website BSE..

#Pengalaman Menggunakan Buku BSE, #Aplikasi buku BSE dan Mahoni.com

Senin, 13 Oktober 2014

Kamar

Ada tugas Bahasa Indonesia suruh bikin cerpen yang mendeskripsikan kamar, jadinya malah amburadul seperti ini.. hahah, ya sudahlah.
-------------



Tengah malam. Batinku. Lagi-lagi aku terbangun ketika semua orang masih asyik berkelana di dunia mimpi.
Sebuah helaan nafas panjang bercampur frustasi meloncat keluar dari mulutku. Lagi-lagi aku harus mematikan alarm hpku yang belum sempat berbunyi. Aku bahkan belum menyelesaikan mimpiku, itupun kalau aku bermimpi. Tunggu dulu, aku tidak ingat ada suatu cuplikan ajaib yang sempat mampir di alam bawah sadarku. Itu artinya...

            Ah, sudahlah. Tidak penting.

            Aku melihat sekitarku, kemudian mendapati dua sosok manusia yang tengah tertidur pulas beralaskan karpet. Mereka ibu dan adikku. Hey, tidakkah raut muka ibu terlihat begitu damai? Sesuatu yang jarang menghias wajahnya ketika berada di dunia nyata. Mungkin pada akhirnya dunia mimpi benar-benar menjadi tempat pelarian dari kejamnya realita. Kadang kupikir hal itu sedikit ironis. Tapi, kenapa tidak jika itu bisa mengurangi beban yang selama ini menggelayuti hati dan pikiran.

            Aku beranjak dari kasur biru yang seharusnya menjadi tempat tidur adik kecilku. Kasur biru yang berada di ruang keluarga ini sejatinya merupakan kasur yang diperuntukkan pada pasien.
Benda ini sudah menjadi salah satu penghuni rumahku sejak dua tahun yang lalu, semenjak ayah mendapat musibah. Entah berapa kali sudah kasur ini keluar-masuk gudang. Tapi yang jelas, kasur ini akan terus menjadi bagian dari rumah ini. Setidaknya sampai Tuhan berkehendak lain.
Sebenarnya, kasur ini hanya akan keluar dari gudang ketika seseorang sedang sakit. Itupun jika sakitnya dianggap cukup serius. Wajar saja, orang sakit membutuhkan istirahat ekstra. Satu-satunya hal yang membuat benda ini tidak segera kembali ke gudang tidak lain karena benda ini sangat nyaman untuk dijadikan tempat tidur di depan Tv.

Aku kembali menghela nafas.

Kasihan betapa adikku harus tidur di karpet. Kakak macam apa aku ini. Pikirku. Mungkinkah tadi ibu pun tak tega membangunkanku yang sudah terlelap bersama lembaran-lembaran tugas di sampingku yang hampir tak terjamah? Tunggu sebentar...
“Tugas?” gumamku setengah panik. Bukankah itu alasan kenapa aku terbangun?
...

Sebuah gagang pintu kuraih. Ckreeek! Suaranya tidak merdu, tapi setidaknya tidak berisik. Ruangan yang hanya berukuran 3 x 3 m2 itu tampak berbeda untuk suatu alasan. Berbeda bukan dalam artian aneh, melainkan asing.
Tembok bercat hijau itu masih tampak sama, lantai keramik berwarna abu-abu, juga tirai biru berukuran sedang telah lama menggantung menutupi jendela yang sisi lainnya berbatasan langsung dengan meja makan. Aku bahkan tidak mengerti kenapa jendela itu ada di sana, di sebelah timur, dimana sinar matahari tetap kesulitan untuk mengunjungi ruangan yang notabene menjadi kamarku.
“Lantas apanya yang berbeda?” ucapku pelan.

Aku duduk di atas kasur tanpa bingkai penyangga. Letak kasur itu di timur, tepat di bawah jendela dengan posisi horizontal menghadap utara-selatan. Kasur itu tidak begitu besar, mungkin sekitar 80 x 200 cm. Cukup untuk satu orang. Lalu di kirinya terdapat meja belajar dengan tumpukan buku di bawahnya. Buku itu sudah menumpuk agak lama, entah karena tidak muat, atau aku yang malas menjejalkannya di rak yang hampir membeludak. Ah, sama saja, kupikir.
Meja itu tertutup oleh kain hasil membatik dengan kawan-kawan. Warnanya biru pudar, dengan garis putih membentuk pola sederhana. Terlihat sedikit absurd, kalau boleh kukatakan.  
Aku jarang memakai meja belajar itu, sebab aku tidak terbiasa duduk tenang di kursi sambil belajar. Aku lebih suka belajar di ruang tamu, atau di ruang keluarga yang ada TVnya. Mungkin permasalahan sebenarnya bukan pada bagaimana aku tidak terbiasa duduk tenang di kursi, melainkan bagaimana aku tidak menikmati sensasi terkurung bersama mata pelajaran.

Aku tidak membenci ilmu. Aku hanya tidak cocok dengan jembatan yang menyeberangkanku kesana.

Untuk sesaat, bukannya mengerjakan tugas, aku malah duduk termangu menyaksikan setiap sudut ruangan. Memang tidak ada yang salah dengan ruangan yang tengah ku singgahi ini. Tapi, aku hanya heran. Heran bagaimana ruangan ini bisa tampak begitu penuh dan kosong di saat yang bersamaan. Aneh. Mungkin aku yang aneh.

Aku mengedarkan pandanganku ke bagian utara, terdapat dua buah almari pakaian. Yang satu merupakan almari berwarna coklat tua, lalu satunya dengan warna coklat muda. Almari berwarna coklat muda itu milik adikku. Ia masih kecil, belum memiliki kamar sendiri, jadi almari itu ditaruh di kamarku. Sedangkan, yang coklat tua itu milikku.
Di atas almari itu bertengger dua koper, yang entah sampai kapan akan tetap di sana. Agaknya koper-koper itu sudah cukup berumur. Pasalnya, warna koper itu tidak lagi terlihat cerah, bukan pula pudar, lebih seperti usang. Mungkin ia terlalu lama menunggu seseorang untuk menciptakan kenangan baru dengannya, sehingga kini hanya debu dan makhluk kecil pembuat jaringlah yang menjadi temannya di atas sana.

Aku melihat angka yang tertera di hpku. Di sana tertera pukul 1.34, itu artinya sudah setengah jam aku memegang tugasku tanpa melakukan apa-apa. Mendadak jadi malas juga untuk mengerjakannya. Tapi mau bagaimana lagi, tugas adalah tugas. Itu kewajiban yang tidak boleh dilalaikan, bukan?
Aku menghela nafas panjang. Aneh, bagaimana semua pemikiran tidak penting ini lebih banyak menyedot waktu.

Tidak penting?

Sejenak kemudian aku terdiam. Aku mencoba mengoreksi kata-kataku sendiri. Tanpa sadar aku benar-benar mengucapkan dua kata itu, “Tidak penting.” Apanya yang tidak penting?
Sekali lagi, aku mengamati setiap sudut di kamarku. Jika dilihat sepintas, ruangan ini tampak lebar karena semua perabotnya merapat ke dinding. Ada banyak barang yang sebenarnya tidak sempat terwujud menjadi ucapan, seperti gulungan kertas di atas koper itu.
Aku sadar, semua benda itu tidak mungkin di sini tanpa suatu alasan khusus. Dimana aku sadar setiap benda memiliki memori, dan tujuan tersendiri.

Kini, aku mengerti apa yang berbeda dari ruangan ini. Yakni ikatan. Ikatan jiwa yang menyatukan majikan dan benda miliknya. Selayaknya seseorang yang enggan mengganti sepeda lamanya dengan yang baru, sebab ia sudah lama bersamanya. Aku pun begitu.
Kadang aku takut untuk tahu kalau suatu hari nanti aku akan merindukan saat-saat aku berada di ruangan ini. Sampai-sampai, aku lupa untuk menghabiskan waktu untuk diriku sendiri, di ruangan ini. Sayangnya waktu untuk diri sendiri itu semakin lama semakin terkuras. Bahkan kadang seseorang akan kehabisan akal ketika ia sudah benar-benar mendapatkan waktu yang ia inginkan.

Well, sesekali mengingat masa lalu pun tidak ada salahnya. Bukankah masa lalu yang membuat seseorang seperti apa dia sekarang. Karena keputusannya di masa lalu lah ia menjadi seseorang yang sekarang. Bahkan masa sekarang pun kelak akan menjadi masa lalu bagi masa depan. Rumit sekali.
           
            Apakah kau juga begitu, kamar? Akankah kau merasa kesepian seandainya tidak ada seorangpun yang menginjakkan kakinya?
Hahaha, mungkin ganjil, jika kutujukan ini padamu. Namun ketahuilah, seperti itulah manusia. Sedikit aneh jalan pemikirannya, tapi ia selalu memiliki tujuan di setiap tindakannya. Walau kada

New Version (Half Clown)



Half Clown

"Hey, Elise! Tahu tidak kalau hari ini aku akan mengikuti..."  Dan bla bla bla seterusnya. Itu yang selalu kudengar setiap hari, tanpa terkecuali. Aku lelah menjadi penonton, aku lelah menjadi pendengar, aku bahkan sudah muak dengan semua yang kalian lakukan. Tak bisakah kalian biarkan aku sendiri? 
Kumohon berhentilah...
Tapi permohonan seperti itu adalah sia-sia. Mereka tidak akan membiarkanku sendiri, sekeras apapun aku mencoba. Seolah dunia ikut bersekongkol untuk tidak membiarkanku mendapatkan sedikitpun ketenangan.
 Ketika jam pelajaran telah usai, aku pergi mengelilingi sekolah tanpa tujuan. Sebenarnya ingin sekali aku membeli makanan di kantin, tapi aku tidak memiliki uang untuk itu. Saat melewati koridor sekolah, ada sebuah papan pengumuman yang di sana terdapat banyak sekali poster dan beberapa informasi yang ditempelkan guru. Sejujurnya aku tak pernah benar-benar tertarik untuk berhenti, sampai aku memandang secarik poster di papan pengumuman. Gambarnya tampak menarik, aku ingin tahu apakah isinya pun semenarik itu.
Aku mulai mengedarkan pandanganku dari satu sudut ke sudut yang lain. Mencerna setiap kata yang tertera apik di sana. Sebuah olimpiade tentang bahasa inggris. Aku belum pernah tahu tentang olimpiade serupa. Mungkin ada baiknya aku mencoba untuk ikut.
 "Hey, Elise!" Sapa seseorang yang tak lain adalah Marry. "Apa ini? Lomba bahasa inggris? Ah, mendadak aku ingin mengikutinya!" 
Dia lagi. Marry selalu menghampiriku yang sedang mengamati sesuatu. Akan menyenangkan kalau dia hanya bayangan, tetap diam tanpa perlu kuperhatikan.
"Kau bisa mengikutinya kalau kau mau. Lagipula ini untuk umum." Balasku.
"Kau benar! Peluangnya pasti besar!"
 Peluang? Sunggguh hanya itukah yang ada di pikiranmu? Yah, bukannya aku peduli, hanya saja tolong jangan membicarakan peluang di depanku. Aku membenci itu. Tidak, aku bahkan membenci semua yang akan kau katakan setelah ini atau mungkin sebelumnya. Aku bahkan sedang tidak ingin di sampingmu. Bisakah kau pergi?
"Hey, mau kemana?" Tanya Marry.
Tidak berguna. "Ke suatu tempat." Jawabku.
 Dia pasti mengikutiku. Lalu pertunjukan di mulai. "Tahu tidak, di rumah tadi sebelum berangkat, aku..." Lebih tepatnya cerita pun di mulai. Hey, bolehkah aku menyumbat telingaku? Aku tidak ingin otakku menjadi ensiklopedia dari riwayat hidupmu. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku tidak ingin menyakiti seseorang. Lagipula, aku tidak yakin kau akan mau mengerti jikapun aku menjelaskannya. Bukankah kau selalu begitu? Menganggap kata-kataku tidak terlalu penting, entah kau sadar ataupun tidak.
 "Apa kau marah padaku? Biasanya kau selalu tersenyum. Ah, aku benci ketika mood kamu seperti itu. Kau selalu seperti itu!" Ucap Marry.
Selalu seperti itu? Lucu sekali. "Tidak, tidak. Aku hanya sedang sariawan. Terlalu sering tersenyum membuatnya jadi perih." Balasku seenaknya.
...

Keadaan di rumah tidak jauh berbeda, malah jauh lebih buruk. Namun meski begitu, aku lebih suka berada di sini sebab dengan begitu aku bisa mengunci diri.
"Ibu, Ayah, aku pulang!" Ucapku. 
Tak ada suara, tak ada apa-apa. Seperti yang kuduga, di rumah tidak ada orang. Atau mungkin mereka memutuskan untuk pergi? Oh, kapan mereka pergi? Akhirnya mereka pergi juga, eh? Bukan kejutan.
"Tak ada buruknya." Gumamku. 
Aku pergi ke kamar. Ah, sejak kapan ruangan sempit ini terasa semakin sempit, walaupun tidak ada banyak barang. Hanya ada almari di sudut ruangan, dan meja belajar yang di atasnya terdapat cermin sedang. Aku jarang menggunakannya. Cermin itu memperlihatkan bayangan diriku yang tampak begitu menyedihkan, dan aku benci melihatnya.
Suasana yang begitu menenangkan ini kumanfaatkan untuk tidur, melepas semua beban yang menggelayuti tubuh. Namun sebelum itu, aku menyumbat telingaku dengan headset, lalu memutar mp3 hingga tertidur. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Tidak ada yang lain.
 Tuhan, kumohon, bawa aku pergi...
 Tuhan sangat baik, Ia mendengar do'aku. Ia membawaku pergi ke dunia mimpi yang indah. Tempat yang sangat ingin kutinggali. Tapi sayangnya itu tidak berlangsung lama. 
Suara keras pintu yang seperti didobrak itu membangunkanku. Dengan berat hati, aku keluar dari kamar untuk melihat siapa itu.
"Ibu kau sudah..."
"Diam! Masuk ke kamarmu dan lakukan apapun yang kau mau!" Makinya.
Oh, itu cara yang kasar sekali, bu. Kalau kau tidak suka kusambut, baiklah, tak apa. Katakan saja, dengan begitu mungkin aku tak perlu menyambutmu lagi jika benar itu yang kau harapkan.
"Aku akan di kamar jika kau butuh." Kataku kemudian, sambil menutup pintu.
 Jika kau butuh...?
Bukankah itu kata sederhana yang sebenarnya menyakitkan?
 Tak lama setelahnya, dobrakan pintu kedua terdengar. Itu pasti ayah, terdengar sangat jelas. "Pertunjukan di mulai." Kataku pelan.
Ayah dan ibuku bertengkar lagi. Mereka selalu bertengkar. Ada banyak hal yang mereka pertengkarkan. Terlalu banyak, hingga aku tak ingin membahasnya sekalipun. Walau kadangkala aku penasaran apakah mereka sadar bahwa aku ada di sini, mendengar semua yang mereka pertengkarkan, menjadi saksi bisu atas segala pertikaian. Sejujurnya jika mau, mereka bisa bercerai, membuangku, menelantarkanku dimanapun dan kapanpun. Tapi, kenapa mereka menahanku di sini? Jika diminta untuk pergi, dengan senang hati aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi di rumah ini. Jadi kenapa aku ditawan di sini? Aku lelah. Aku lelah menjadi penonton, aku lelah menjadi pendengar, aku lelah menjadi saksi bisu atas semua yang orang-orang lakukan. Aku lelah menjadi semua itu, aku lelah untuk berpura-pura aku tidak ada, aku lelah untuk marah, bahkan aku terlalu lelah untuk menangis. Sungguh aku sudah lelah.
Sebagai pelarianku dari kenyataan, aku selalu pergi mengunjungi khayalanku. Aku menulis semua cerita khayalan itu, bahkan membuat beberapa gambar, dan merancang sendiri sampulnya. Jika ini bisa membuatku merasa lebih baik, kenapa tidak?
Toh.. ini lebih baik daripada mengumbar aib pada buku harian. Lebih baik daripada mengoceh tak karuan lewat surel, blog atau.. entahlah. Masa bodoh dengan semua itu.
Betapa menyedihkan.
...

Di sekolah...
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menganggap dunia ini tidak adil.
 “Maaf Nak, kuota untuk sekolah kita sudah habis dan pendaftaran ditutup kemarin." Jelas ibu guru.
"Oh, tidak apa-apa, ibu. Hahaha, salah saya karena sangat lambat."
 Olimpiade yang selalu ingin kuikuti, lagi-lagi gagal kuikuti. Tuhan, katakan padaku kalau memang bukan ini jalan yang harus kutempuh. Tolong katakan bahwa aku masih punya kesempatan. Katakan bahwa semua akan baik-baik saja. Setidaknya itu akan menghiburku.
Aku menggambar senyum di jariku. Berpura-pura bahwa itu Elsie, salah satu tokoh dalam duniaku yang lain. Khayalanku. Dialah yang jadi penghibur untukku sejauh ini. Mungkin satu-satunya teman yang kumiliki dan yang kubutuhkan selama ini.
 Jangan khawatir Elise. Aku akan menemanimu selalu. Tak perlu khawatir. Kalau waktunya datang, kesempatan yang sama pasti datang.
 Sebut aku gila, karena mungkin aku memang sudah mulai kehilangan kewarasanku.
 "Elise!" Panggil Marry yang mendadak muncul entah darimana. "Aku jadi ikut olimpiade yang kemarin!" Lalu bla bla bla, seperti itu lagi. 
"Bersama Caroline." Ucapnya.
Apa?!
"Agak menyebalkan sih kalau dia ikut. Tapi daripada quotanya tidak penuh, jadi aku mengajaknya. Hehehe. Akui saja aku memang sangat pandai membujuk orang."
 Kau memilih mendaftarkan Caroline yang sebenarnya tidak begitu tertarik? Jadi begitu. Selalu membanggakan diri dan.. kau sudah seperti mengambil alih hidupku yang sudah nyaris tak berharga ini. Bagus. Sejauh inikah kau ingin menunjukkan betapa tidak bergunanya aku? Aku paham.
Jantungku berdegup kencang, ada sesuatu yang mengganjal di dada. Tuhan, apakah ini yang namanya sakit yang tak lagi terbendung? Terasa lebih menyakitkan dari biasanya. Tapi untuk menyembunyikan semuanya, aku tersenyum lebar. Berpura-pura untuk menjadi seperti orang gila, atau orang gila yang mengaku tidak gila. Yang manapun itu.
 "Hahahaha..." 
"Elise, apa yang kau tertawakan?" Tanya Marry. 
 Huh? Aku tertawa?
 "M-maaf, mendadak aku teringat film komedi yang kutonton kemarin malam."
"Dasar kau..."
"Jadi, Marry, aku akan pulang lebih dulu. Sampai nanti."
...

Elise...
"Elsie?"
 Kenapa kau melarikan diri?
"Aku tidak melarikan diri. Aku hanya menyadari tempatku, dan pergi."
Pembohong
 "Oh ya, aku memang pembohong. Aku hanya pembohong yang kini menjadi seorang badut. Karena sekarang aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan selain tersenyum dan tertawa."
 Semua akan baik-baik saja.
"Elsie, ingin sekali aku ikut ke duniamu. Mungkin kita bisa melakukan sesuatu bersama. Mungkin bercengkerama bersamamu, teman-temanmu, dan keluargamu. Hahahaha... aku ingin tahu bagaimana mereka akan berpikir tentangku. Mungkin payah, bodoh, atau tidak berguna? Haha.."
 Elise, hentikan!
"Maaf, aku tidak bisa berhenti. Hahahaha... sangat aneh, sangat aneh.. hahahaha!"
 Elise sadarlah..
Elise hentikan!
Elise!
Elise!

Erh..
"Apa yang kau lakukan, Elise? Cepat bangun! Ini sudah waktunya sarapan, bodoh! Harusnya kau sudah menyiapkan sarapan! Kenapa kau ini." Bentak Ibu.
Ternyata mimpi. Padahal akhirnya aku bisa berbicara banyak dengan Elsie. Dengannya yang terlihat seperti manusia sungguhan, tidak seperti sosok palsu. Tidak seperti ayah, ibu, Marry, ataupun yang lainnya, iya kan Elsie?
Aku menganggukkan kepalaku. Kemudian tersenyum tanpa kusadari. 

Tiba-tiba, Plak!
Ibu menamparku dengan kerasnya. Oh, sepertinya kali ini akan meninggalkan bekas.
"Apa yang kau lamunkan, ha? Cepat pergi ke ruang makan, sekarang!" Perintah ibu yang kemudian berbalik memunggungiku.
“Ibu, apa kau ibuku?” tanyaku tiba-tiba. Ibu tak pernah melihatku dengan tatapan senang, aku ingin tahu kenapa. Aku juga tidak tahu kenapa ibu selalu bertengkar dengan ayah, kenapa keduanya jarang pulang, kenapa keduanya terlihat berbeda, kenapa keduanya semakin lama terlihat semakin asing, bahan aku tidak tahu kenapa aku begitu dibenci. Sudah lama pertanyaan itu terpendam jauh di dasar jiwa. Tapi setiap kali aku menimbunnya, pertanyaan itu tidak semakin hilang justru mengganjal seperti duri. Aku tidak kuat memendamnya lagi, kali ini aku ingin tahu.
Ibu mengernyitkan dahinya, sedikit iba ia memandangku. Mungkin untuk pertama kalinya ia mau membuka hatinya sedikit untukku?

Sayangnya aku salah. “Diam kau! Hal-hal seperti itu bukan urusan anak kecil!” bentaknya.
“Bu, tidak tahu denganmu, tapi aku merasa kau bukan ibuku.” Gumamku pelan. Setidaknya itulah yang kuyakini hingga saat ini, meski belum ada bukti yang meluruskan keyakinan itu.

“Kau mengatakan sesuatu bocah tengil? Jangan buat aku marah dengan segala macam tingkah bodohmu!” bentaknya lagi. “Sekarang cepat buatkan sarapan!”
"Hahaha, iya, ibu. Maafkan kebodohanku." Jawabku.

Ibu sempat memandangiku sinis sebelum meninggalkanku.
Dunia yang aneh. Tuhan, apa aku kurang berusaha? Sepertinya semua tidak kunjung membaik.
Aku keluar dari ruang pengasinganku. Berbenah diri, lalu memasakkan sesuatu untuk orangtuaku. Bukan sesuatu yang istimewa, tapi cukup untuk membuat perut berhenti meronta. Sambil terus memasak, pikiranku terus melayang ke berbagai tempat.
Aku mungkin tidak tahu bagaimana awal dari segalanya, tapi aku tahu kalau semua ini harus berakhir.
...
"Makanan sudah siap!" Ucapku begitu selesai menyiapkan makanan.
"Ibu, aku..."
"Pergi saja! Tak usah pamit segala. Lagipula kau sudah tidak dibutuhkan di sini." Potong Ibuku sambil memaki dengan suara yang keras.

Padahal bukan itu yang kumaksud. Aku hanya ingin tahu apakah aku bisa makan bersama kalian. Tapi sudahlah.
Aku mengangguk, lalu tersenyum. Kemudian menengok ke ayah. Barangkali dia akan...
"Cepatlah pergi, dasar anak tidak berguna." Ucapnya penuh kebencian. Ouh, sepertinya mereka sedang tidak ingin aku di dekatnya.

Sama seperti biasa, ayah dan ibu memberiku uang. Namun kali ini nominalnya lebih besar, sepuluh ribu yen masing-masing. Mungkin dia ingin aku bermain sepuasnya sampai petang. Hahaha... aku tahu, mereka hanya tidak ingin diganggu. Pekerjaan mereka pasti berat sekali. Aku yang menyedihkan ini tidak boleh terlalu menyusahkan keduanya.
"Terimakasih, aku pergi."
...

Aku berjalan gontai menuju mini-market langgananku yang letaknya di seberang sungai. Itu artinya aku harus melewati jembatan itu. Ah, fisikku agaknya mulai melemah, di tambah perut yang terus meronta-ronta. Rasanya sangat.. entahlah. Aku tidak tahu, dan aku kembali tertawa kecil.

Aku memang belum makan apapun sejak dua hari yang lalu, selain dua mie instant. Mungkin selama ini aku terlalu banyak makan mie? Hahaha, sudahlah, yang penting makan. Lagipula ayah dan ibu enggan makan bersamaku. Keduanya pasti cepat pergi ketika selesai, seolah mereka hanya singgah di warung kecil untuk makan saja. Tidak lebih. aku sendiri jarang berkesempatan memakan masakanku sendiri. Terdengar konyol memang.
Persediaan makanan tidak cukup untuk kami bertiga. Jadi untuk menghematnya, aku sengaja mengurangi porsiku sedikit demi sedikit. Selain itu, mereka pun jarang pulang ke rumah sehingga aku tidak punya uang. Mini-market langgananku itu sebenarnya juga tempatku bekerja paruh waktu. Tapi begitu ayah mengetahuinya, aku terpaksa harus berhenti. Katanya tidak pantas orang sepertiku bekerja sambilan. Tidak berguna, bodoh, payah, dan menyusahkan. Membuat malu nama keluarga. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa mendebat ayahku.

"Elsie, kenapa perjalan ke mini-market mendadak begitu sulit seperti ini?"

Bertahanlah Elise. Tak apa, aku selalu di sampingmu. Jangan khawatir. Nanti setelah sampai di sana, sebaiknya kau membeli sesuatu untuk dimakan.

Kuharap begitu. Tapi aku mendapat firasat buruk. Sepertinya aku tidak akan sampai ke tempat manapun. 
Firasatku benar. Seseorang yang mengendarai sepeda motor mencuri tasku dengan paksa. Membuat fisikku yang lemah ini semakin tak bisa menjaga keseimbangan, dan akhirnya jatuh ke sungai yang kebetulan alirannya cukup deras.
Arus membawaku pergi. Di tambah tubuhku yang terasa begitu lemah, aku bahkan tidak punya kekuatan untuk menepi.

Elise!
Elise!
"Jangan khawatirkan aku, Elsie. Aku akan baik-baik saja, tenang."

Tapi kau bisa mati!
"Bukankah sejak awal aku tidak pernah ada? Tidak dianggap, lebih tepatnya."

Elise!

Kau bahkan hanya sebuah khayalan, Elsie. Khayalan dari diriku yang menyedihkan ini. Meski begitu, entah kenapa aku merasa cukup bahagia.
"Hey, kalau aku bisa ke duniamu, ayo kita main?" 

Aku memandang sosok khayalanku, Elsie, di atas jembatan. Setelah kupikir-pikir, sosoknya hampir menyerupaiku. Sosoknya semakin lama semakin kabur dan menjauh.

Sial, kesadaranku mulai menghilang.

Tubuhku hanyut bersama arus sungai kecil ini. Meski begitu aku masih saja tersenyum dan tertawa seolah tidak ada yang terjadi. Ah ya, benar...
Sebut aku gila atau apa, karena mungkin aku memang sudah kehilangan kewarasanku.

Kemudian setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Aku memejamkan mata. Biarlah arus membawaku pergi, hilang dari muka bumi.