Define Yourself

Who are you now or later, the choice is yours.

Sounds of Harmony

Maybe for once in a while you have to pay attention, even to the very simple thing in your life. Try to listen to the words that have to be listened. Maybe one day, You'll find that sound of harmony.

Power of Faith

Hope is something that easy to get, but hard to be held. If you never give up on your hope, it's not just people will acknowledge you but also God will rewarded you. There is nothing wrong about having Faith. Instead, having no faith is something like a lost man in nowhere. Don't you think?

Reason of Dream

Dream is like a whole empty sheat you have to fulfill so you can take your score and your star. Then your effort would be like a pen to help you fulfill your sheat. After that you'll realize "the all written sheat is actually the story of your life."

Taste of Life

"Love, Laugh, and Sincere," are always being the best feelings in life. But not to forget that "Hurt, Tears, and Regret" are always be the most precious thing which can teach you how to taste both the good and bad favours in your life.

Secret of Mind

If you want to be desperate, Just say "I am Useless!" and your spirit will be gone in no time. But if you REALLY want to be better, NEVER say such thing. Just say "I'm good enough, cos I am ME. No one can change." remember that God create you because of some reasons, some mission, something means you're NOT USELESS AT ALL. You have to find it on your own.

Senin, 13 Oktober 2014

New Version (Half Clown)



Half Clown

"Hey, Elise! Tahu tidak kalau hari ini aku akan mengikuti..."  Dan bla bla bla seterusnya. Itu yang selalu kudengar setiap hari, tanpa terkecuali. Aku lelah menjadi penonton, aku lelah menjadi pendengar, aku bahkan sudah muak dengan semua yang kalian lakukan. Tak bisakah kalian biarkan aku sendiri? 
Kumohon berhentilah...
Tapi permohonan seperti itu adalah sia-sia. Mereka tidak akan membiarkanku sendiri, sekeras apapun aku mencoba. Seolah dunia ikut bersekongkol untuk tidak membiarkanku mendapatkan sedikitpun ketenangan.
 Ketika jam pelajaran telah usai, aku pergi mengelilingi sekolah tanpa tujuan. Sebenarnya ingin sekali aku membeli makanan di kantin, tapi aku tidak memiliki uang untuk itu. Saat melewati koridor sekolah, ada sebuah papan pengumuman yang di sana terdapat banyak sekali poster dan beberapa informasi yang ditempelkan guru. Sejujurnya aku tak pernah benar-benar tertarik untuk berhenti, sampai aku memandang secarik poster di papan pengumuman. Gambarnya tampak menarik, aku ingin tahu apakah isinya pun semenarik itu.
Aku mulai mengedarkan pandanganku dari satu sudut ke sudut yang lain. Mencerna setiap kata yang tertera apik di sana. Sebuah olimpiade tentang bahasa inggris. Aku belum pernah tahu tentang olimpiade serupa. Mungkin ada baiknya aku mencoba untuk ikut.
 "Hey, Elise!" Sapa seseorang yang tak lain adalah Marry. "Apa ini? Lomba bahasa inggris? Ah, mendadak aku ingin mengikutinya!" 
Dia lagi. Marry selalu menghampiriku yang sedang mengamati sesuatu. Akan menyenangkan kalau dia hanya bayangan, tetap diam tanpa perlu kuperhatikan.
"Kau bisa mengikutinya kalau kau mau. Lagipula ini untuk umum." Balasku.
"Kau benar! Peluangnya pasti besar!"
 Peluang? Sunggguh hanya itukah yang ada di pikiranmu? Yah, bukannya aku peduli, hanya saja tolong jangan membicarakan peluang di depanku. Aku membenci itu. Tidak, aku bahkan membenci semua yang akan kau katakan setelah ini atau mungkin sebelumnya. Aku bahkan sedang tidak ingin di sampingmu. Bisakah kau pergi?
"Hey, mau kemana?" Tanya Marry.
Tidak berguna. "Ke suatu tempat." Jawabku.
 Dia pasti mengikutiku. Lalu pertunjukan di mulai. "Tahu tidak, di rumah tadi sebelum berangkat, aku..." Lebih tepatnya cerita pun di mulai. Hey, bolehkah aku menyumbat telingaku? Aku tidak ingin otakku menjadi ensiklopedia dari riwayat hidupmu. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku tidak ingin menyakiti seseorang. Lagipula, aku tidak yakin kau akan mau mengerti jikapun aku menjelaskannya. Bukankah kau selalu begitu? Menganggap kata-kataku tidak terlalu penting, entah kau sadar ataupun tidak.
 "Apa kau marah padaku? Biasanya kau selalu tersenyum. Ah, aku benci ketika mood kamu seperti itu. Kau selalu seperti itu!" Ucap Marry.
Selalu seperti itu? Lucu sekali. "Tidak, tidak. Aku hanya sedang sariawan. Terlalu sering tersenyum membuatnya jadi perih." Balasku seenaknya.
...

Keadaan di rumah tidak jauh berbeda, malah jauh lebih buruk. Namun meski begitu, aku lebih suka berada di sini sebab dengan begitu aku bisa mengunci diri.
"Ibu, Ayah, aku pulang!" Ucapku. 
Tak ada suara, tak ada apa-apa. Seperti yang kuduga, di rumah tidak ada orang. Atau mungkin mereka memutuskan untuk pergi? Oh, kapan mereka pergi? Akhirnya mereka pergi juga, eh? Bukan kejutan.
"Tak ada buruknya." Gumamku. 
Aku pergi ke kamar. Ah, sejak kapan ruangan sempit ini terasa semakin sempit, walaupun tidak ada banyak barang. Hanya ada almari di sudut ruangan, dan meja belajar yang di atasnya terdapat cermin sedang. Aku jarang menggunakannya. Cermin itu memperlihatkan bayangan diriku yang tampak begitu menyedihkan, dan aku benci melihatnya.
Suasana yang begitu menenangkan ini kumanfaatkan untuk tidur, melepas semua beban yang menggelayuti tubuh. Namun sebelum itu, aku menyumbat telingaku dengan headset, lalu memutar mp3 hingga tertidur. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Tidak ada yang lain.
 Tuhan, kumohon, bawa aku pergi...
 Tuhan sangat baik, Ia mendengar do'aku. Ia membawaku pergi ke dunia mimpi yang indah. Tempat yang sangat ingin kutinggali. Tapi sayangnya itu tidak berlangsung lama. 
Suara keras pintu yang seperti didobrak itu membangunkanku. Dengan berat hati, aku keluar dari kamar untuk melihat siapa itu.
"Ibu kau sudah..."
"Diam! Masuk ke kamarmu dan lakukan apapun yang kau mau!" Makinya.
Oh, itu cara yang kasar sekali, bu. Kalau kau tidak suka kusambut, baiklah, tak apa. Katakan saja, dengan begitu mungkin aku tak perlu menyambutmu lagi jika benar itu yang kau harapkan.
"Aku akan di kamar jika kau butuh." Kataku kemudian, sambil menutup pintu.
 Jika kau butuh...?
Bukankah itu kata sederhana yang sebenarnya menyakitkan?
 Tak lama setelahnya, dobrakan pintu kedua terdengar. Itu pasti ayah, terdengar sangat jelas. "Pertunjukan di mulai." Kataku pelan.
Ayah dan ibuku bertengkar lagi. Mereka selalu bertengkar. Ada banyak hal yang mereka pertengkarkan. Terlalu banyak, hingga aku tak ingin membahasnya sekalipun. Walau kadangkala aku penasaran apakah mereka sadar bahwa aku ada di sini, mendengar semua yang mereka pertengkarkan, menjadi saksi bisu atas segala pertikaian. Sejujurnya jika mau, mereka bisa bercerai, membuangku, menelantarkanku dimanapun dan kapanpun. Tapi, kenapa mereka menahanku di sini? Jika diminta untuk pergi, dengan senang hati aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi di rumah ini. Jadi kenapa aku ditawan di sini? Aku lelah. Aku lelah menjadi penonton, aku lelah menjadi pendengar, aku lelah menjadi saksi bisu atas semua yang orang-orang lakukan. Aku lelah menjadi semua itu, aku lelah untuk berpura-pura aku tidak ada, aku lelah untuk marah, bahkan aku terlalu lelah untuk menangis. Sungguh aku sudah lelah.
Sebagai pelarianku dari kenyataan, aku selalu pergi mengunjungi khayalanku. Aku menulis semua cerita khayalan itu, bahkan membuat beberapa gambar, dan merancang sendiri sampulnya. Jika ini bisa membuatku merasa lebih baik, kenapa tidak?
Toh.. ini lebih baik daripada mengumbar aib pada buku harian. Lebih baik daripada mengoceh tak karuan lewat surel, blog atau.. entahlah. Masa bodoh dengan semua itu.
Betapa menyedihkan.
...

Di sekolah...
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menganggap dunia ini tidak adil.
 “Maaf Nak, kuota untuk sekolah kita sudah habis dan pendaftaran ditutup kemarin." Jelas ibu guru.
"Oh, tidak apa-apa, ibu. Hahaha, salah saya karena sangat lambat."
 Olimpiade yang selalu ingin kuikuti, lagi-lagi gagal kuikuti. Tuhan, katakan padaku kalau memang bukan ini jalan yang harus kutempuh. Tolong katakan bahwa aku masih punya kesempatan. Katakan bahwa semua akan baik-baik saja. Setidaknya itu akan menghiburku.
Aku menggambar senyum di jariku. Berpura-pura bahwa itu Elsie, salah satu tokoh dalam duniaku yang lain. Khayalanku. Dialah yang jadi penghibur untukku sejauh ini. Mungkin satu-satunya teman yang kumiliki dan yang kubutuhkan selama ini.
 Jangan khawatir Elise. Aku akan menemanimu selalu. Tak perlu khawatir. Kalau waktunya datang, kesempatan yang sama pasti datang.
 Sebut aku gila, karena mungkin aku memang sudah mulai kehilangan kewarasanku.
 "Elise!" Panggil Marry yang mendadak muncul entah darimana. "Aku jadi ikut olimpiade yang kemarin!" Lalu bla bla bla, seperti itu lagi. 
"Bersama Caroline." Ucapnya.
Apa?!
"Agak menyebalkan sih kalau dia ikut. Tapi daripada quotanya tidak penuh, jadi aku mengajaknya. Hehehe. Akui saja aku memang sangat pandai membujuk orang."
 Kau memilih mendaftarkan Caroline yang sebenarnya tidak begitu tertarik? Jadi begitu. Selalu membanggakan diri dan.. kau sudah seperti mengambil alih hidupku yang sudah nyaris tak berharga ini. Bagus. Sejauh inikah kau ingin menunjukkan betapa tidak bergunanya aku? Aku paham.
Jantungku berdegup kencang, ada sesuatu yang mengganjal di dada. Tuhan, apakah ini yang namanya sakit yang tak lagi terbendung? Terasa lebih menyakitkan dari biasanya. Tapi untuk menyembunyikan semuanya, aku tersenyum lebar. Berpura-pura untuk menjadi seperti orang gila, atau orang gila yang mengaku tidak gila. Yang manapun itu.
 "Hahahaha..." 
"Elise, apa yang kau tertawakan?" Tanya Marry. 
 Huh? Aku tertawa?
 "M-maaf, mendadak aku teringat film komedi yang kutonton kemarin malam."
"Dasar kau..."
"Jadi, Marry, aku akan pulang lebih dulu. Sampai nanti."
...

Elise...
"Elsie?"
 Kenapa kau melarikan diri?
"Aku tidak melarikan diri. Aku hanya menyadari tempatku, dan pergi."
Pembohong
 "Oh ya, aku memang pembohong. Aku hanya pembohong yang kini menjadi seorang badut. Karena sekarang aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan selain tersenyum dan tertawa."
 Semua akan baik-baik saja.
"Elsie, ingin sekali aku ikut ke duniamu. Mungkin kita bisa melakukan sesuatu bersama. Mungkin bercengkerama bersamamu, teman-temanmu, dan keluargamu. Hahahaha... aku ingin tahu bagaimana mereka akan berpikir tentangku. Mungkin payah, bodoh, atau tidak berguna? Haha.."
 Elise, hentikan!
"Maaf, aku tidak bisa berhenti. Hahahaha... sangat aneh, sangat aneh.. hahahaha!"
 Elise sadarlah..
Elise hentikan!
Elise!
Elise!

Erh..
"Apa yang kau lakukan, Elise? Cepat bangun! Ini sudah waktunya sarapan, bodoh! Harusnya kau sudah menyiapkan sarapan! Kenapa kau ini." Bentak Ibu.
Ternyata mimpi. Padahal akhirnya aku bisa berbicara banyak dengan Elsie. Dengannya yang terlihat seperti manusia sungguhan, tidak seperti sosok palsu. Tidak seperti ayah, ibu, Marry, ataupun yang lainnya, iya kan Elsie?
Aku menganggukkan kepalaku. Kemudian tersenyum tanpa kusadari. 

Tiba-tiba, Plak!
Ibu menamparku dengan kerasnya. Oh, sepertinya kali ini akan meninggalkan bekas.
"Apa yang kau lamunkan, ha? Cepat pergi ke ruang makan, sekarang!" Perintah ibu yang kemudian berbalik memunggungiku.
“Ibu, apa kau ibuku?” tanyaku tiba-tiba. Ibu tak pernah melihatku dengan tatapan senang, aku ingin tahu kenapa. Aku juga tidak tahu kenapa ibu selalu bertengkar dengan ayah, kenapa keduanya jarang pulang, kenapa keduanya terlihat berbeda, kenapa keduanya semakin lama terlihat semakin asing, bahan aku tidak tahu kenapa aku begitu dibenci. Sudah lama pertanyaan itu terpendam jauh di dasar jiwa. Tapi setiap kali aku menimbunnya, pertanyaan itu tidak semakin hilang justru mengganjal seperti duri. Aku tidak kuat memendamnya lagi, kali ini aku ingin tahu.
Ibu mengernyitkan dahinya, sedikit iba ia memandangku. Mungkin untuk pertama kalinya ia mau membuka hatinya sedikit untukku?

Sayangnya aku salah. “Diam kau! Hal-hal seperti itu bukan urusan anak kecil!” bentaknya.
“Bu, tidak tahu denganmu, tapi aku merasa kau bukan ibuku.” Gumamku pelan. Setidaknya itulah yang kuyakini hingga saat ini, meski belum ada bukti yang meluruskan keyakinan itu.

“Kau mengatakan sesuatu bocah tengil? Jangan buat aku marah dengan segala macam tingkah bodohmu!” bentaknya lagi. “Sekarang cepat buatkan sarapan!”
"Hahaha, iya, ibu. Maafkan kebodohanku." Jawabku.

Ibu sempat memandangiku sinis sebelum meninggalkanku.
Dunia yang aneh. Tuhan, apa aku kurang berusaha? Sepertinya semua tidak kunjung membaik.
Aku keluar dari ruang pengasinganku. Berbenah diri, lalu memasakkan sesuatu untuk orangtuaku. Bukan sesuatu yang istimewa, tapi cukup untuk membuat perut berhenti meronta. Sambil terus memasak, pikiranku terus melayang ke berbagai tempat.
Aku mungkin tidak tahu bagaimana awal dari segalanya, tapi aku tahu kalau semua ini harus berakhir.
...
"Makanan sudah siap!" Ucapku begitu selesai menyiapkan makanan.
"Ibu, aku..."
"Pergi saja! Tak usah pamit segala. Lagipula kau sudah tidak dibutuhkan di sini." Potong Ibuku sambil memaki dengan suara yang keras.

Padahal bukan itu yang kumaksud. Aku hanya ingin tahu apakah aku bisa makan bersama kalian. Tapi sudahlah.
Aku mengangguk, lalu tersenyum. Kemudian menengok ke ayah. Barangkali dia akan...
"Cepatlah pergi, dasar anak tidak berguna." Ucapnya penuh kebencian. Ouh, sepertinya mereka sedang tidak ingin aku di dekatnya.

Sama seperti biasa, ayah dan ibu memberiku uang. Namun kali ini nominalnya lebih besar, sepuluh ribu yen masing-masing. Mungkin dia ingin aku bermain sepuasnya sampai petang. Hahaha... aku tahu, mereka hanya tidak ingin diganggu. Pekerjaan mereka pasti berat sekali. Aku yang menyedihkan ini tidak boleh terlalu menyusahkan keduanya.
"Terimakasih, aku pergi."
...

Aku berjalan gontai menuju mini-market langgananku yang letaknya di seberang sungai. Itu artinya aku harus melewati jembatan itu. Ah, fisikku agaknya mulai melemah, di tambah perut yang terus meronta-ronta. Rasanya sangat.. entahlah. Aku tidak tahu, dan aku kembali tertawa kecil.

Aku memang belum makan apapun sejak dua hari yang lalu, selain dua mie instant. Mungkin selama ini aku terlalu banyak makan mie? Hahaha, sudahlah, yang penting makan. Lagipula ayah dan ibu enggan makan bersamaku. Keduanya pasti cepat pergi ketika selesai, seolah mereka hanya singgah di warung kecil untuk makan saja. Tidak lebih. aku sendiri jarang berkesempatan memakan masakanku sendiri. Terdengar konyol memang.
Persediaan makanan tidak cukup untuk kami bertiga. Jadi untuk menghematnya, aku sengaja mengurangi porsiku sedikit demi sedikit. Selain itu, mereka pun jarang pulang ke rumah sehingga aku tidak punya uang. Mini-market langgananku itu sebenarnya juga tempatku bekerja paruh waktu. Tapi begitu ayah mengetahuinya, aku terpaksa harus berhenti. Katanya tidak pantas orang sepertiku bekerja sambilan. Tidak berguna, bodoh, payah, dan menyusahkan. Membuat malu nama keluarga. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa mendebat ayahku.

"Elsie, kenapa perjalan ke mini-market mendadak begitu sulit seperti ini?"

Bertahanlah Elise. Tak apa, aku selalu di sampingmu. Jangan khawatir. Nanti setelah sampai di sana, sebaiknya kau membeli sesuatu untuk dimakan.

Kuharap begitu. Tapi aku mendapat firasat buruk. Sepertinya aku tidak akan sampai ke tempat manapun. 
Firasatku benar. Seseorang yang mengendarai sepeda motor mencuri tasku dengan paksa. Membuat fisikku yang lemah ini semakin tak bisa menjaga keseimbangan, dan akhirnya jatuh ke sungai yang kebetulan alirannya cukup deras.
Arus membawaku pergi. Di tambah tubuhku yang terasa begitu lemah, aku bahkan tidak punya kekuatan untuk menepi.

Elise!
Elise!
"Jangan khawatirkan aku, Elsie. Aku akan baik-baik saja, tenang."

Tapi kau bisa mati!
"Bukankah sejak awal aku tidak pernah ada? Tidak dianggap, lebih tepatnya."

Elise!

Kau bahkan hanya sebuah khayalan, Elsie. Khayalan dari diriku yang menyedihkan ini. Meski begitu, entah kenapa aku merasa cukup bahagia.
"Hey, kalau aku bisa ke duniamu, ayo kita main?" 

Aku memandang sosok khayalanku, Elsie, di atas jembatan. Setelah kupikir-pikir, sosoknya hampir menyerupaiku. Sosoknya semakin lama semakin kabur dan menjauh.

Sial, kesadaranku mulai menghilang.

Tubuhku hanyut bersama arus sungai kecil ini. Meski begitu aku masih saja tersenyum dan tertawa seolah tidak ada yang terjadi. Ah ya, benar...
Sebut aku gila atau apa, karena mungkin aku memang sudah kehilangan kewarasanku.

Kemudian setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Aku memejamkan mata. Biarlah arus membawaku pergi, hilang dari muka bumi.

Minggu, 14 September 2014

Goes to Sambit

Kalau dilakukan dengan senang dan ikhlas, insyaallah bisa dilakukan.. ^_^

Senin, 07 Juli 2014

Heavenly sung by f9 / Kiyono


Anata wa mou watashi wo dakishimenai
te no nukumori sae mo kanjiru koto ga dekinai

Doushite na no watashi wo nokoshite
sora ni todoki sou na basho kara mi wo nageta

Akaku akaku somatta tekubi nagare-ochiru shizuku
nagamete wa kokoro wo itsuwatte

Itsuka hoshizora no kakera ni natte
ten no kawa o watattara
nando mo kawasu kuchidzuke wo omoi
koe wo koroshi naite naite shizumu no

Nagesuteta no anata no omoide
naki nagara hirotte oku fukaku ni shimaikonda

Kankaku sae mo nibui itami e to
kokochi yoi himei ga kokoro wo tokashite iku

Oto iro koe sekai no katachi ushinatte shimatta
mou nido to hikari wa utsuranai

Toki ga nagarete wa iroasete iku
kako wa marude awa mitai
Nemuri ni tsuite mou nido to samenu
amaku kaoru yume wo yume wo choudai

Teokure kashira kuruoshiku maichiru
shiroi hana ga mieru wa

Gin no hoshizora no kakera ni natte
ten no kawa wo watatta no
iki ga tsumari sou todoita yubi wa
tashika ni anata wo kanjiru
orihime-sama wa kumo nishiki otte
nemuru futari wo yasashiku yasashiku tsutsumu no

Tsumetaku natte mo heiki kokoro wa mou itakunai kara

Minggu, 06 Juli 2014

Journal #09

Jadi orang lain itu lebih enak daripada jadi diri sendiri! (kenapa gua kepikiran quote itu ya? quote darimana coba? Hemeh... yang jelas bukan punya saya. Wosh! xD)

Sudahlah... I like the way I am, dan tengah berusaha untuk mengimprove hidup saya. #wosh!
Anyway...

Don't Judge People from It's Cover! Bisa?
Kebiasaan buruk yang mesti dihilangin dari hati kecil manusia yang bernama nurani. Nurani!! Jangan bilang enak dulu sebelum lihat perjuangannya... Be Grateful, bung! Nggak semua hal di dunia ini bisa dilihat dari kovernya saja. Tolonglah... Hidup itu nggak seperti dongeng. Tidak semua orang memulai kisah mereka dengan tiba-tiba menjadi "Tuan Putri dari kerajaan....." atau "Pangeran dari..." atau malah "Raja/Ratu yang memimpin di...". Juga, tidak semua orang bisa nemuin happy ending. Tinggal usahanya, sob! Jangan lupain do'a, juga tawakkal.

Sekali-kali, tinggalkan itu. Pandanglah realita dengan jeli, waspada, dan pemikiran yang luas. Tahu tidak, ketika kamu mengirikan sesuatu, sebenarnya di luar sana ada banyak yang juga iri denganmu. Seperti misalnya kamu dapat hadiah motor super keren dari ayah dan ibumu supaya kamu semakin semangat pergi ke sekolah, tahu tidak kamu kalau di luar sana ada banyak anak-anak yang berjuang mati-matian buat sekolah. Entah sekolah mereka yang mulai rusak parah, atau berbagai kendala yang lain mereka tetap bersikeras untuk sekolah. Coba tebak... cita-cita mereka apa coba? Dokter? Guru? Pengusaha? Sukses? Salah.... Cita-cita terbesar mereka adalah  Better Life! Dan itu juga yang diinginkan semua orang. Nggak perlu kaya, nggak perlu muluk, nggak perlu ala-ala dunia dongeng. Yang penting bisa lebih baik, walau sedikit. Poin Bersyukur ada di sini nih. Ujian berat manusia (termasuk saya, of course) adalah... bisakah kita bersyukur sebelum dan sesudahnya?

Journal #08

Mendengarkan lagu melancholic itu sangat menenangkan, tapi bikin galau. (Somehow). Siapa yang suka galau? Kalau aku sih jelas tidak. Tapi... sayangnya, kadang-kadang pas kepikiran untuk berhenti galau itu tidak bisa. Kalau kasusku sih, bukannya karena tidak ada hal yang membahagiakan atau saking frustrasinya. Tapi karena adakalanya perasaan galau itu dibutuhkan. Serius! Tanpa galau kamu tidak akan tahu rasanya bahagia yang benar-benar bahagia. Percaya? Anggap saja itulah alasan kenapa pepatah atau (siapapun yang pernah bilang) "Jangan terlalu senang dulu!" Lihat dari sisi seberang sebelum terlalu girang.

REMEMBER...!
Hidup itu cuma sekali. Bahagia selamanya? Mustahil. Oh, dan tolong jangan berharap untuk selalu bahagia di dunia, karena bisa jadi akhirat kalian nanti... You Know What I Mean.

Think Twice! Malaikat maut itu sebenarnya nggak pernah jauh-jauh dari kita. Percaya?

Minggu, 18 Mei 2014

Jurnal #07

Mendadak terpikir untuk membuat puisi. Tidak terlalu bagus memang. Hmmph... -_-"
Sudahlah... Please enjoy. Ngomong-ngomong, gambar ini entah berhubungan atau tidak (geez -_-) kuambil dari internet. Maafkan saya yang mencomot gambar dari mbah google T_T" Jadi, gambar ini credit ke pemiliknya yang sah. Oke?



Wandering Soul
by Gita Ardeny, (May, 17th 2014, 1:21)

The world's getting weirder,
And the way to through it is getting harder,
So each of us keeps in wonder,

Even there are thousands more hinder,
Would any soul would keeps in wander?

None even a reason could explain this custom,
Not a single piece of mere freedom,
Nor a wish for a soul to barely get home

So the thought flowing till the dusk,
Too much that a soul would come to ask,

Even the brave wouldn't ask for a slave,
Why we, a slave keeps looking for a slave?
We don't live in a cave,
So, what is it that we crave?

Are we looking for a miracle?
Though, all we ever done is playing in a sin circle

It's just too hilarious!
How would a path looks very suspicious,
Even a truth somehow became too hideous,
Created the holy rising mischievous,




The true enemy
Hiding behind all, luxuriously
So the forbidden slowly take its glory.

We're just a masochist,
Who act like a terrorist
An actual soul to be tamed,
Yet a someone's someone to be blamed

You who heard this misery

Come and listen to me,
Since you're the dawn and the sun,
There so much work to be done,
Till any of you ready to be gone.

Under the pure sky,
We absurdly cry,
Envy on how happy a bird can fly,

Lies on the poor cushion,
We found a shocking conclusion,

If a soul's not the chosen,
Will a soul meet a raven?
Can a soul walk to heaven?
It's just beyond any imagination

A soul innocently walked away,

What a dense!
Have a sense!
Say a little thanks,
Might as worthy as a thousand year rains.

Rabu, 07 Mei 2014

Journal #06

Hai semuanya!


Hahah~ Aku tidak tahu sejak kapan aku mempunyai waktu untuk menulis. Ya, benar... yang penting menulis, bukan menulis yang penting. Tidak perlu mengingatkanku, aku belum terlalu pikun asal tahu saja ya.

Oh, posting ini kutujukan untuk temanku. Haruskah aku berikan namanya? Haruskah? Aku ingin tahu.. Tapi sudahlah. Sebut saja Choi Sanra. Itu hanya nama koreanya, a.k.a nama samaran. Oke, jangan pedulikan itu. Yang jelas ini tentang orang itu.

Kami sempat terlibat beberapa pembicaraan kecil, yang kemudian mengarah kepada satu pertanyaan..
"Menurutmu, apa warnaku?"

Kalau saja ia berbicara tentang warna aura, aku akan menjawab bertanyalah pada dia yang bisa membacanya, sebab aku tidak bisa. Tapi sayangnya bukan, ini soal perspektif. Ah, aku tahu aku bukan master di bidang ini. Kalaupun dipikir-pikir, apa salahnya berbagi sedikit opini, huft?

Di sini aku hanya ingin berbagi sedikit tentang warna yang kutemukan dari pribadinya. Aku yakin di dunia ini ada segelintir orang yang memiliki kesamaan. Jadi, aku hanya ingin memposting apa yang kupikirkan tentang warnanya. Barangkali memang ada orang yang kebetulan sama, dan kuharap postingan ini akan membantu. Walau sedikit ragu, apa benar ada orang yang akan membaca. Sebab di era sekarang ini, siapa sih yang suka diberi kata-kata panjang yang menjemukan? Tapi, sudahlah... anggap saja kita tidak peduli dan tidak sedang ingin peduli soal itu.

Baiklah, warna miliknya adalah ORANGE  seperti warna matahari. Tidak, sebenarnya kalau kuibaratkan sih, dia mirip matahari. Somehow, some way? Anggap saja begitu. Haruskah kujabarkan? Baiklah. Ngomong-ngomong, karena ini adalah sebuah pendapatku. Monolog singkat atau apapun.. anggap saja aku sedang berbicara denganmu. Jadi perhatikan! 

1. The Sun is Bright 
Credit to it's rightful owner
- Matahari adalah sumber cahaya paling terang di muka bumi, siapapun tahu itu -
Seperti halnya matahari, kepribadianmu luar biasa terang. Dimanapun kamu berada, begitu melakukan satu saja aktivitas maka semua orang akan langsung mengenalimu. Orang pasti akan berpikir, "Oh, itu pasti kamu!", "Terdengar seperti suaramu!", "Sudah kuduga pasti kamu!" atau yang lainnya. Lihat? Kau sebenarnya sangat popular di kalangan manusia-manusia lainnya (eh?). Jadi, kenapa kamu masih suka kurang percaya diri, dan selalu merasa rendah? Kau tahu... menurut pandanganku sih, ketika kamu tahu kamu punya sesuatu di sekelilingmu, sebut saja mendapat sesuatu yang bagi orang lain sudah jadi luar biasa untuk didapatkan, dan kamu masih menganggap sangat amat remehnya dirimu hanya karena kamu ingin dilihat lebih tinggi atau setara dengan bulan (misalkan) adalah salah satu hal yang kupikir cukup merendahkan. Walaupun semua manusia pasti pernah mengalaminya. Ya, ya, kau tahu itu dan aku tidak berniat menasehatimu. Dalam hal ini, (menurutku) apa yang selalu hilang dari dirimu adalah "pengakuan diri". Oke, percaya diri sudah menjadi hal yang kadaluwarsa. Sebab apa? Kau tidak akan menjadi spontan ketika kau tidak percaya diri, yakinlah itu.

Sekarang, kapan kau akan mulai menerima dirimu sendiri? Kau ini matahari, sudahlah terima saja! Apa yang kau irikan dari bulan, hum? Kalau kau mau tahu, bulan sebenarnya tidak lebih terang daripada dirimu. Dia terlihat terang hanya karena di sekitarnya tidak ada yang lain selain hamparan langit hitam. Tidakkah kau tahu bahwa sebenarnya bulan ingin sekali bisa sepertimu? Jadi, sudahilah sesuatu seperti "Aku ingin seperti bulan!", "Seandainya aku bulan!", "Ah, ya memang aku tidak bla bla bla." Ayolah... manusia diciptakan dengan kodratnya. Sekali-kali, hargai perjuanganmu, hargai dirimu sendiri. Berbahagialah dengan apa yang kau capai, apapun itu. Bisa jadi hal yang kau anggap sepele adalah suatu yang luar biasa yang tidak pernah orang lain dapatkan. Adakalanya merasa puas itu penting, you know...

Contohnya saja :
- Berapa banyak nasi yang sudah kau sisihkan selama hidupmu? Bisa kau hitung? Tidak? Tentu saja! Bagaimana mungkin bisa dihitung karena nasi itu jumlahnya banyak. Kadangkala kita tidak sadar telah membuang hal kecil yang bisa menjadi nyawa bagi seseorang. Yang kita tahu hanyalah "kita tidak mau, dan tidak mau berarti disisihkan." Bayangkan saja, nasi yang kamu sisihkan selama hidupmu itu bisa untuk menghidupkan berapa nyawa walau dalam hitungan hari. Kita sudah diberi anugerah dan kemudahan oleh Yang Maha Kuasa, sedangkan di luar sana ada banyak nyawa yang hilang karena kelaparan. Masihkah kita ingin menghamburkan nikmat yang kita miliki?

Itulah tadi. Aku tidak berniat menasehatimu, karena nasehat ini juga untuk diriku sendiri dan siapapun yang merasa ingin dinasehati.
"Janganlah kamu meremehkan sesuatu walau sekecil apapun. Sebab meremehkan sesuatu bisa jadi lebih merendahkan orang lain dibanding dengan menghina seribu orang sekalipun."

2. Matahari bisa jadi terlalu panas! 
- Setiap orang selalu menggumamkan betapa cerahnya hari ini, ketika matahari benar-benar bersinar dengan terang. Lalu ketika siang, banyak yang akan mengeluh betapa panasnya hari itu dibanding mensyukuri bahwa hari itu tidak ada hujan badai (misalkan). -
Seperti itulah orang lain melihat orang sepertimu. Mereka mengharapkan kedatanganmu, sebab kamulah sang happy synthesizer (dih, mirip judul lagu). Kamu penular kebahagiaan, sebab semua yang kau rasakan bisa dengan mudah terukir di wajahmu. Seperti kata orang, "orang bisa bahagia hanya dengan melihat orang lain bahagia.". Walau begitu, adapula orang yang iri padamu, bahkan bisa jadi membencimu. Itu semua wajar, karena kita tidak diciptakan sebagai manusia yang sempurna. Mungkin memang adakalanya kamu bersikap over-acting atau over-reacting, tapi jika itu tidak membuat risih orang lain, so what? Tapi kalau itu mulai membuat risih orang lain, mungkin lebih baik jika kamu turunkan kadarnya sedikit. Tidak perlu dihilangkan, tapi cukup diturunkan. Karena kalau kamu menghilangkannya, maka kamu sudah kehilangan satu ciri khasmu, dan kamu tidak akan menjadi kamu tanpa chiri khasmu. Iya kan? Intinya, jika itu tidak membawa keburukan maka tidak ada salahnya untuk mempertahankan, tapi jika memang lebih banyak keburukan dibanding kebaikan yang dibawa, maka buang saja! buang yang jauh-jauh!!

Aku mendapatkan kata-kata ini dari film Frankeinstein (yang baru, yang ceritanya tentang frankeinstein berusaha melindungi dunia manusia dari iblis neraka yang berniat membangkitkan kaumnya).
"You're what you're thinking."
Artinya : Kamu adalah apa yang kamu pikirkan.

Kamu adalah apa yang kamu pikirkan, dan pikiran itu pasti (entah kapanpun itu) akan dibuktikan dengan tindakan. Seperti jika kamu berpikir kamu adalah sang juara, maka sebenarnya kamu memang sang juara. Selanjutnya, pikiran itu akan membuatmu senantiasa berusaha karena kamu adalah sang juara, kamu ingin menjadi sang juara, ketika kamu ingin menjadi sang juara, maka kamu harus seperti sang juara. Mengerti? Kuharap iya. Hahaha~

Oh ya, pikiran pernah dengar tidak kalau pikiran satu orang dengan orang yang lain itu sebenarnya selalu sinkron? Tidak, lupakan saja. Tapi yang jelas, ketika kamu selalu berpikir bagaimana kamu berusaha untuk menjadi pusat perhatian, maka yang terlintas di kepala masing-masing orang juga sama. Yakni bagaimana kamu ingin kamu diperhatikan. Ada yang mungkin menemukan hal itu mengganggu, ada yang secara sederhana "hanya memperhatikanmu" tanpa mempedulikan apapun alasannya, ada yang mungkin memperhatikanmu dan menyadari seluruh tindakanmu dimana di waktu yang sama juga memaklumimu. Jadi, pandai-pandailah berbaur. Walaupun kau ini matahari, tapi jangan terlalu self-centered, atau self-concerned berhubung kamu harus ingat bahwa cahaya milikmu itu bukan hanya kamu seorang yang menikmati. Lagipula, kita ini manusia heterogen kan? Bayangkan aja kalau kita homogen alias sama penampilan, sifat, fisik, dan sebagainya. Apa tidak mengerikan?


3. Side look!
- Matahari selalu tampak begitu sendiri dibanding bulan. Benarkah? -
Ada saat ketika kamu terlalu mengagumi seseorang, atau saat ketika kamu sangat iri terhadap seseorang ketika mendapatkan sesuatu.. di saat itu kamu selalu menganggap betapa naasnya nasib kamu, atau hanya pundung karena gagal mendapatkan sesuatu. hey, hey! tidakkah kamu tahu sudah ke stage berapa kamu sekarang? As you know... tidak ada salahnya untuk menjadi runner-up dalam suatu perlombaan, tidak ada salahnya untuk menjadi baik terlepas dari terbaik, bahkan tidak ada salahnya jikapun gagal dalam sesuatu yang tengah kita usahakan. jangan khawatirkan itu, lihat dari sisi sebaliknya. Menjadi runner-up itu tidak buruk, sebab kau tahu bahwa kau punya tujuan besar yang ingin kau raih, yakni menjadi nomor satu di perlombaan selanjutnya. Begitu pula ketika kamu gagal melakukan sesuatu. Sudahlah, jangan ingat-ingat terus kata "gagal" itu. seperti kata para enterpreneur dan motivator ternama, cobalah ganti kata "gagal" dengan "belum berhasil". Satu makna, beda kata, dan beda hasil. Mungkin benar kalau gagal dan belum berhasil sebenarnya tidak berbeda, tapi setidaknya dengan kamu tidak bilang "gagal" itu berarti kamu tidak membunuh hati / semangatmu. Karena kenapa? sudah jadi tabiat kita sebagai manusia memang yang suka meng-enterpretasikan kata gagal dengan titik akhir, jurang, dan bla bla bla sebagainya. Padahal... enggak kan? Entah kadang kupikir bukan kehidupan yang semakin susah, tapi kita yang berlebihan memaknai suatu artian. Malah tidak jarang kita mengabaikan side looknya.

Ya, lihat? Matahari sebenarnya tidak kesepian. Dia tidak pernah sendiri, karena bulan dan bintang selalu bersamanya walau tidak terlihat. Dan baiknya, matahari tidak pernah mengeluh. Kenapa? Karena ia yakin bahwa teman-temannya (bintang dan bulan) tidak akan meninggalkannya. Dia hanya menghilang (atau lebih tepatnya tidak kentara) untuk beberapa saat, tapi bukan berarti dia benar-benar pergi bukan?
---

Oke, cukup itu dulu... sepertinya postingan saya kali ini kembali absurd!
Yah, sudahlah,,, mau bagaimana lagi? Kalian tidak protes kan? Hahaha~ #abaikan saya.

Sebelum pergi...
All Credit Picture to ITS RIGHTFUL OWNER. :)

Bye-bye!