Define Yourself

Who are you now or later, the choice is yours.

Sounds of Harmony

Maybe for once in a while you have to pay attention, even to the very simple thing in your life. Try to listen to the words that have to be listened. Maybe one day, You'll find that sound of harmony.

Power of Faith

Hope is something that easy to get, but hard to be held. If you never give up on your hope, it's not just people will acknowledge you but also God will rewarded you. There is nothing wrong about having Faith. Instead, having no faith is something like a lost man in nowhere. Don't you think?

Reason of Dream

Dream is like a whole empty sheat you have to fulfill so you can take your score and your star. Then your effort would be like a pen to help you fulfill your sheat. After that you'll realize "the all written sheat is actually the story of your life."

Taste of Life

"Love, Laugh, and Sincere," are always being the best feelings in life. But not to forget that "Hurt, Tears, and Regret" are always be the most precious thing which can teach you how to taste both the good and bad favours in your life.

Secret of Mind

If you want to be desperate, Just say "I am Useless!" and your spirit will be gone in no time. But if you REALLY want to be better, NEVER say such thing. Just say "I'm good enough, cos I am ME. No one can change." remember that God create you because of some reasons, some mission, something means you're NOT USELESS AT ALL. You have to find it on your own.

Senin, 24 Maret 2014

Journal #04

Journal #04 - Bertahan atau kehilangan harapan

Assalamu'alaikum untuk saudara saudari muslim dimanapun kalian berada.

Hai lagi!
Ini baru kelima kalinya aku menulis jurnal yang entah dianggap penting entah tidak. Hehe. Apa kalian sudah bosan? Maafkan aku, aku mungkin memang tidak menyenangkan.

Bertahan atau kehilangan harapan. Itu adalah tugas yang berat, akuilah.
Aku punya buku, judulnya Messages of Hope. Kubeli di gramed sekitar setahun yang lalu. Aku tidak ingat kapan tepatnya, mungkin lainkali aku akan mencatat tanggal pembelian di bukuku. Oke, terlepas dari itu, buku ini berisi tentang 150 Pesan untuk Hidup Penuh Pengharapan dan Kemenangan. Semacam quotes.

Buku-buku seperti ini sangat hebat. Kenapa? Karena buku-buku ini tidak ditujukan pada kita, tapi hati kita. Sebab, sebetulnya bukan diri kita yang bermasalah, tapi hati kita. Orang-orang yang menulis buku ini, pastilah orang-orang yang memiliki jiwa besar.. karena mereka bisa membuat suatu kata-kata menjadi pesan yang kemudian ditransfer menjadi kekuatan.

Dari sekian banyak quotes yang ada, salah satu yang saya paling suka adalah quotes yang berada di halaman 296. (Saya lupa quotes ke berapakah itu) Tapi quotes itu berbunyi :
"Kekuatan kita terbatas, tapi kekuatan Dia (Tuhan) tidak terbatas."

Kadang kita terlalu terfokus untuk belajar ini, dan itu. Kadang kita juga terlalu sibuk berusaha memotivasi diri sendiri. Tapi, sudahkah kita berdo'a? Tanpa berdo'a semuanya akan sia-sia. Jika Tuhan tidak membuka hatimu, bukankah itu jadi percuma? Selain itu, keyakinan adalah kekuatan yang mendasari harapan. Kau yakin kau bisa, sehingga kau pasti mau tidak mau, sadar tidak sadar, pasti mengharapkan hasil yang tinggi. Benar?

Itulah kenapa aku mengatakan bertahan atau kehilangan harapan. Karena ketika kau kehilangan satu saja keyakinanmu, maka kau akan kehilangan lebih banyak harapan. Secara, mau tidak mau kau akan down, kehilangan kepercayaan diri dan sebagainya, hingga pada akhirnya kau berada titik dimana kau mulai berhenti berharap, dan bahkan berhenti mengejar. Tapi, kau tahu.. tidak pernah ada kata mudah dalam kata bangkit. Memang tidak mudah membuat diri sendiri berdiri kembali, tapi pernahkah kau terpikir... "walau hanya sedikit, walau harus merangkak sepanjang jalan, itu jauh lebih baik dibanding berdiam diri."

Aku pun demikian. Aku adalah tipe orang yang sedikit tidak tertebak. Tipikal orang yang sulit. Ketika sedang down, perasaan kecewa, menyesal dan lainnya benar-benar menjadi racun. Seolah dunia pun tidak akan bisa membuatku berdiri. Sebanyak apapun aku mencari kata-kata motivasi, itu tidak akan memberiku banyak efek. Sebaliknya, aku mungkin akan membencinya.

Namun... aku entah bagaimana aku mendapat sedikit cahaya dari sebuah kata-kata. "Allah Maha Kuasa. RencanaNya selalu baik. Jika tidak berjalan dengan baik, maka itu pasti karena kesalahanku di suatu tempat, dimana aku tidak boleh mengulanginya. Pasti ada sesuatu yang baik di balik semuanya." Di saat semua kata-kata tidak berhasil membuatku berdiri, kata-kata ini mampu. Kenapa? Karena kata-kata itu muncul dari diriku sendiri. Kata-kata dari hati yang muncul dari dalam diri, kemudian dilisankan untuk diri sendiri dan orang lain.

Itu lebih mujarab. Jadi, jangan terlena akan semua yang kau dapat. Ingat : Tuhan selalu punya rencana yang baik. Dan.. Sekali-kali percayalah pada dirimu sendiri. Jangan bunuh hatimu.. biarkan ia hidup.

Kecewa, sakit, menyesal... tak apa! Itu wajar. Semua rasa tidak menyenangkan itu bisa membuat hatimu kuat, jika kau mau menerimanya dengan lapang dada.

Tak apa... katakan dengan lantang, "Aku akan baik-baik saja!"
Itu lebih baik dibanding mengatakan, aku payah, bodoh, dan sebagainya. Benar?

Jangan bunuh hatimu... :)
Bertahanlah... kalahkan ketakutanmu. Kalahkan segi negative mu... :)

Journal #04 berakhir di sini! Terimakasih sudah mengunjungi secarik journal kecil ini! Terimakasih! Datang lagi, ya! •﹏•

Keutamaan ILMU

Assalamu'alaikum...

Halo semuanya, apa kabar? Kabar baik? Alhamdulillah. Izinkan saya sekarang ini mengulas sedikit tentang ilmu, dan keutamaan mencari ilmu. (Jujur saja, sebelumnya ini adalah tugas yang diberikan guru saya. Hehe) Meskipun susunan kata-katanya agak nyleneh, saya harap kalian maklum. Dan... INGAT! Saya di sini bukan bermaksud menggurui, tapi hanya ingin berbagi. (Berbagi itu kan tidak berdosa, yang menjadikannya berdosa adalah objek yang dibagikan).

Oke, baiklah...
     Sebelumnya, adakah di antara kalian yang bertanya...
          "Apa itu ilmu?"
               "Kenapa ada yang namanya ilmu?"
     Atau mungkin...
          "Kenapa sih kita harus terus, wajib, dan senantiasa menuntut ilmu?"
     (Padahal ilmu itu kalaupun tidak dituntut juga tidak akan lari kemana-mana, kan? hehehe >w<)


-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Untuk menjawab pertanyaan yang pertama, yakni
"APA ITU ILMU?"
Kalau saya nyomot dari Wikipedia sih bunyinya begini :
      "Ilmu sains, atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia."

Hehe, mumet ya? Bahasanya susah dipahami? Hmm... iya sih. Tapi lihat, barusan saya nyomot lagi beberapa dari blog orang (asyrafmuda.blogspot.com)

ILMU itu...
- menurut bahasa :
          merupakan perkataan arab yaitu 'alima yang berarti mengetahui atau perbuatan yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran dari sesuatu.
 - menurut istilah :
          memberi arti tentang segala pengetahuan atau kebenaran tentang sesuatu yang datang dari Allah SWT yang diturunkan kepada rasul-rasulNya dan alam ciptaannya termasuk manusia yang memiliki aspek Lahiriah dan Batin

Jadi dapat didefinisikan :
     *Pengetahuan atau kepandaian mengenai suatu bisang yang disusun secara bersistem menurut kaedah dan cara tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan sesuatu yang berkaitan dengan bidang ilmu tersebut.*

Sebagai tambahan informasi (ceileh) ilmu Barat dan ilmu ISLAM itu tidak jauh berbeda loh... meski bukan berarti sama.
ILMU BARAT VS ILMU ISLAM

ILMU BARAT
* Dalam pengertian barat modern, ilmu hanyalah merujuk kepada pengenalan atau persepsi yang jelas tentang fakta. Fakta pula merujuk kepada perkara-perkara yang dapat diketahui lewat panca indera zahir dan bersifat empiris. Dimana jika panca indera tidak mampu menangkap hal yang dimaksud, maka dianggap bukan fakta dan tidak termasuk ke dalam bidang ilmu. Jika mengikuti pandangan mereka yang secara auti matrik (saya sendiri sebenarnya agak kurang paham dengan istilah ini. -_-" maaf...), maka ajaran agama tidak termasuk ke dalam bidang ilmu, melainkan dianggap sebagai kepercayaan saja. (Jadi jangan heran kalau kebanyakan ilmuan Barat, mohon maaf, cenderung atheis.)

ILMU ISLAM
* Islam menggabungkan agama dan ilmu. Tiada pertentangan antara agama dan ilmu dalam agama, malahan agaman itu sendiri dianggap sebagai ilmu, dan ilmu dapat dituntut lewat agama. Istilah itu mencakupi banyak hal / perkara, antaranya : Al-Qur'an, Syariah, Sunnah Iman, dan lain-lain. Penekanan terhadap ilmu jelas terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Selain itu, mendapat pengiktirafan Allah sebagai sumber tertinggi manusia, wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.


Wah... ini baru definisi loh. Panjang yah? Hehehe. Nggak apa-apa... hitung-hitung dapat ilmu. Lho, ini termasuk ilmu loh...! Jadi, kalau boleh saya simpulkan (Sebenarnya ini adalah definisi saya tentang ilmu. Boleh jadi mendekati benar, cukup bisa diterima, atau salah.)
    "Ilmu adalah suatu petunjuk berupa pengetahuan untuk kita (manusia) mengetahui atau menjadi diketahui tentang dan oleh suatu hal yang boleh jadi kita anggap asing, sehingga kita semakin tahu dan mengerti."
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.- 
   
 -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
YUK, sekarang kita melancong ke pertanyaan kedua
"KENAPA ADA YANG NAMANYA ILMU?"
Hmm... hm...
Kalau kalian bertanya begitu, boleh jadi jawabannya akan kalian temukan jika kalian menjawab pertanyaan, berikut :
"Kenapa ada yang namanya manusia?"

Hayo, kenapa coba? Adakah yang mau menjawab? Apa, terlalu banyak jawaban? 
Yah... kalau begitu jawaban untuk pertanyaan "Kenapa ada yang namanya ilmu" adalah... BANYAK JAWABAN! (xixixi)
Nah, misalkan kalian menjawab...
  1. Manusia ada untuk menjadi Khalifah di Bumi.
    * maka ilmu pun ada untuk menunjukkan pada manusia bagaimana caranya menjadi seorang khalifah (yang baik, tentunya)
  2. Manusia ada untuk Menghuni Bumi.
    * maka ilmu pun ada untuk memenuhi bumi dengan membuat penghuninya menjadi penghuni yang berkualitas, pandai, dan bijaksana.
  3. Manusia ada karena memang Diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang sempurna, dan diberi akal pikiran.
    * maka ilmu pun ada karena Allah sudah berbaik hati pada manusia dengan sengaja memberi petunjuk berupa ilmu pengetahuan (yang tentu saja tentang hal-hal yang terpuji) supaya akal pikiran manusia tidak tersesat gara-gara nafsu.
Bahkan jawaban yang paling "REMPONG" sekalipun bisa jadi jawaban yang Anda ingin baca :
          "MANUSIA ADA KARENA TAKDIR!"
Maka : ilmu pun ada karena sudah menjadi ketetetapan Allah. Suka-suka Allah gitu mau ngasih ilmu ke manusia. Kalau manusianya sendiri nggak mau dikasih ya sudah. Tapi kalau merugi ya jangan salahkan siapa-siapa.

See...? Ilmu sangat erat kaitannya dengan manusia. Terutama dalam kehidupan dunia dan akhirat. NGGAK PERCAYA? Astaghfirullah hal'adzim...

INGAT! "Anda mungkin bisa menghapuskan kata ilmu dari kamus. Tapi mau butuh waktu seribu tahun pun, Anda tidak akan bisa menghapus kata ilmu dari kehidupan manusia."

Buktikan aja deh kalau nggak percaya... =____="

Allah berfirman :

Ø´َÙ‡ِدَ اللَّÙ‡ُ Ø£َÙ†َّÙ‡ُ Ù„َا Ø¥ِÙ„َٰÙ‡َ Ø¥ِÙ„َّا Ù‡ُÙˆَ ÙˆَالْÙ…َÙ„َائِÙƒَØ©ُ ÙˆَØ£ُولُÙˆ الْعِÙ„ْÙ…ِ Ù‚َائِÙ…ًا بِالْÙ‚ِسْØ·ِ ۚ Ù„َا Ø¥ِÙ„َٰÙ‡َ Ø¥ِÙ„َّا Ù‡ُÙˆَ الْعَزِيزُ الْØ­َÙƒِيمُ  

     "Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang berilmu (juga menyatakan demikian itu). Tak ada Tuhan selain Dia (yang berhak disembah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."  
(Q.S. Al-Imran : 18)


Nah, kan... dari situ kita dapat tahu bahwa Allah menjadikan orang berilmu itu bersaksi atas ketauhidanNya. Sehingga, sebenarnya mau tidak mau ilmu itu harus menjadi satu kesatuan dengan kehidupan manusia. Terutama kehidupan orang-orang mukmin.
     Kenapa Allah menjadikan orang-orang berilmu itu sebagai saksi, dan bukan sembarang orang saja biar lebih mudah?
--  itu mungkin karena orang berilmu itu adalah seseorang yang bisa membedakan mana yang Haq (benar) dan mana yang Bathil (salah). Kenapa demikian? Karena dia sudah "mengetahui", karena dengan ilmu yang diberikan Allah kepadanya itulah ia menjadi lebih tahu.

Bayangkan...

   Apa jadinya jika Allah menjadikan orang selain orang berilmu menjadi saksi?
  1. Semua orang akan menjadi saksi. Tidak terkecuali orang yang tidak berakal (gila) dan para pendusta. Gampangnya, apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kesaksian dari orang yang tidak waras? Perkataannya pasti nggak nyambung, nggak jelas, tidak sinkron, dan bahkan sulit dimengerti. Jika kalian dinasehati orang gila (misal disuruh nyebur ke kali, atau apalah..), akankah kalian mengikuti nasehat itu?
  2. Seandainya para pendusta ikut bersaksi. Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar seorang pembohong bersaksi? Hmm.. yah, kalau pembohongnya udah lama tobat sih, okelah... bisa dipertimbangkan. Kalau tidak? Kalau pembohong itu forever jadi pembohong gimana coba? Sebentar-sebentar mereka akan mengatakan iya, sebentar-sebentar tidak. Besok bilang tidak, setelahnya bilang mungkin, lalu seterusnya ngomong yang lain. Nah loh! Bisakah kata-kata itu dipertanggungjawabkan? Pertanyaan sederhana : Apakah kalian akan mempercayai seorang pendusta yang sudah jelas-jelas mereka kerap berdusta? Pikirkan sendiri.
Yah begitulah saudara saudariku... ish, Naudzubillahimindalik. Semoga kita senantiasa diberi petunjuk oleh Allah SWT.
     Makanya ilmu itu harus kita cari. Allah saja sudah ngasih kita banyak, kok kitanya nggak bersyukur, dan anehnya malah tambah nggak peduli... Aduh! Puyeng deh! Khalifah macam apa kita ini? Mari kita renungkan.
 -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.- 

 -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
 Selanjutnya...
      Jeng! Jeng! Ini nih, topik terutama, terhangat, teruptodate sepanjang masa, ter...ter... yah, pokoknya yang pembahasannya nggak bakal tamat selama masih ada hayat (hidup).
"KENAPA ILMU HARUS TERUS, WAJIB, DAN SENANTIASA DITUNTUT?"
    Supaya kita tahu kah? Yap! Benar sekali. Masih panjang lagi kalau harus dijelaskan sedetail-detailnya. Nggak bakal rampung-rampung! Serius. Dan alangkah lebih baik kalau membahasnya sama orang-orang yang sudah expert alias ahli. Jangan saya...! Nanti Anda ilmunya hanya akan sebatas ilmu yang saya ketahui. Lha wong saya ini juga masih dalam taraf belajar kok. Pengetahuan saya masih terlalu dangkal, jadi saya pun juga harus menuntut ilmu yang banyak. Hehe...

Jadi, kalau ilmu itu memang penting dan harus selalu dicari, sejak kapan kita harus mencarinya?
... Sejak Sekolah Dasar?
   ... Sejak umur lima tahun?
      ... Sejak TK?
         ... Sejak Bayi?
YAK! Jawabannya adalah... pokoknya SEDINI MUNGKIN.

Pertanyaan lainnya...
Sampai kapan kita harus menuntut ilmu?
... Sampai lulus sekolah dasar / sekolah menengah pertama / sekolah menengah atas?
     ... Sampai kita kuliah semester akhir?
          ... Sampai menjadi sarjana?
               ... Sampai kita pensiun dari pekerjaan kita?
Benar! Jawabannya adalah... sampai kita DIPANGGIL ALLAH! dalam istilah lain berarti meninggal dunia.

Kalau kata Nabi sih...
     "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat."

  Itu artinya : Kita dilarang keras untuk capek menuntut ilmu. RUGI 100%, tidak... bahkan 100000....% kalau sampai kita enggan menuntut ilmu.

Eh! apa itu artinya kita udah diwajibkan untuk menuntut ilmu sejak lahir?
 - Ho'oh! Bener banget! -

Jangan kira anak baru lahir itu tidak menuntut ilmu loh ya... Menuntut ilmu itu bukan berarti harus duduk di bangku sekolah. Tidak. Kalau anak bayi itu menuntut ilmu dari ibu bapaknya. Malah... tahu tidak bahwa hal itu tercantum pada sebuah syair dalam bahasa Arab :
"Al-ummu madrasatun-ula."
= Ibu adalah sekolah pertama.

Lewat ibu kita belajar mengatakan "ibu", "mama", "ayah", "papa", "maem", dan lain sebagainya. Beliau yang susah payah mengajari kita untuk duduk, berguling, merangkak, dan akhirnya bisa berjalan. Subhanallah... betapa besar jasa ibu.
Bahkan sebenarnya...
     Kita sudah menuntut ilmu sejak di dalam kandungan. Percaya? Tidak? Iya? Baik, saya asumsikan saja sebagai tidak. hehe.

      Saat di dalam kandungan, tubuh kita tentu mengalami perkembangan. Termasuk kemampuan otak kita. Di usia kehamilan tertentu, otak kita sudah dapat berfungsi meski belum optimal. Otak kita sudah bisa menangkap, dan mencerna informasi. Walau dengan kutipan : "informasi tersebut tidak serta merta kita cerna seluruhnya begitu saja." ibarat makan buah, kita masih dalam taraf "hanya mampu meminum sari buahnya saja". Itulah kenapa ibu hamil sangat dianjurkan untuk banyak makan-makanan bernutrisi tinggi, sering menjaga vitalitas tubuh dengan yoga atau senam ibu hamil, mendengarkan musik-musik yang lembut nan syahdu, atau bahkan membacakan dongeng untuk si kecil yang masih ada dalam kandungan. Ya... yang paling baik sih membaca Al-Qur'an / minimal sering mendengarkan qiro' / tartil / orang-orang yang mengaji, supaya ketika besar makin cinta sama Allah SWT :)

Oke, berhubung sekarang kita udah gede, udah nggak digendong kemana-mana... Kita harus sadar diri dan secara mandiri menuntut ilmu. (Kalau bisa nggak usah pakai acara diomelin ibu dulu baru mau belajar, dll.) Menuntut ilmu itu banyak ragamnya juga loh...
Contohnya : 
  • menuntut ilmu dengan pergi ke sekolah
  • pergi les privat ke guru atau bimbingan belajar yang saya pikir sudah banyak tersebar
  • membaca buku, atau mungkin browsing artikel di internet (berhubung sekarang eranya globalisasi, tekhnologi maju, dimana semuanya sudah serba canggih. hehe.)
Ada banyak hadist yang menerangkan betapa Allah mencintai orang-orang yang gemar menuntut ilmu karena lillahi ta'ala. Allah sudah menjanjikan banyak hal, dan secara singkat saya tulis sebagai berikut ini :
  • Di tempatkan di surga, dimana akan dimudahkan ketika masuk dengan melewati pintu khusus yang sudah dipersiapkan Allah. (ibarat tamu kehormatan, gitu... ^v^)
  • Ditinggikan derajatnya baik di dunia maupun di akhirat
  • Dimudahkan mencari rezeki yang halal
  • Jika meninggal dalam keadaan sedang menuntut ilmu, maka meninggalnya digolongkan ke dalam mati syahid.
  • Bahkan malaikat akan mengembangkan sayapnya, serta ikan-ikan di laut akan mendo'akannya.
Coba lihat dan amati... Kurang apa coba? Allah dengan gamblangnya menunjukkan pada kita banyak kebaikan hanya dengan menuntut ilmu. Belum lagi kalau kita berbuat kebaikan sekaligus mengamalkan ilmu yang kita peroleh dengan ikhlas, dan niat untuk Allah ta'ala. Wuiiih~ Inshaallah dijamin surga. Amin... ^w^

Saking cintanya Allah tadi, Allah bahkan membedakan antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. Dapat di lihat dalam firmanNya :

Ø£َÙ…َّÙ†ْ Ù‡ُÙˆَ Ù‚َانِتٌ آنَاءَ اللَّÙŠْÙ„ِ سَاجِدًا ÙˆَÙ‚َائِÙ…ًا ÙŠَØ­ْذَرُ الْآخِرَØ©َ ÙˆَÙŠَرْجُÙˆ رَØ­ْÙ…َØ©َ رَبِّÙ‡ِ ۗ Ù‚ُÙ„ْ Ù‡َÙ„ْ ÙŠَسْتَÙˆِÙŠ الَّذِينَ ÙŠَعْÙ„َÙ…ُونَ Ùˆَالَّذِينَ Ù„َا ÙŠَعْÙ„َÙ…ُونَ ۗ Ø¥ِÙ†َّÙ…َا ÙŠَتَذَÙƒَّرُ Ø£ُولُÙˆ الْØ£َÙ„ْبَابِ 

     "(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran."
(Q.S. Az-Zumar : 9)


Allah bahkan mencela orang-orang yang tidak berilmu.
Allah berfirman :

ÙˆَÙ„َÙˆْ Ø£َÙ†َّÙ†َا Ù†َزَّÙ„ْÙ†َا Ø¥ِÙ„َÙŠْÙ‡ِÙ…ُ الْÙ…َÙ„َائِÙƒَØ©َ ÙˆَÙƒَÙ„َّÙ…َÙ‡ُÙ…ُ الْÙ…َÙˆْتَÙ‰ٰ ÙˆَØ­َØ´َرْÙ†َا عَÙ„َÙŠْÙ‡ِÙ…ْ ÙƒُÙ„َّ Ø´َÙŠْØ¡ٍ Ù‚ُبُÙ„ًا Ù…َا Ùƒَانُوا Ù„ِÙŠُؤْÙ…ِÙ†ُوا Ø¥ِÙ„َّا Ø£َÙ†ْ ÙŠَØ´َاءَ اللَّÙ‡ُ ÙˆَÙ„َٰÙƒِÙ†َّ Ø£َÙƒْØ«َرَÙ‡ُÙ…ْ ÙŠَجْÙ‡َÙ„ُونَ

     "Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."

(Q.S. Al-An'am : 111)

 -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Jadi, sementara itu dulu yang bisa saya ulaskan.
... INGAT! Ilmu itu sangat utama untuk dicari. (Duh, maaf kalau kosakatanya mulai amburadul) Oke, intinya ilmu itu sangat penting dan wajib hukumnya untuk dituntut, selama kita masih bernyawa... selama nyawa masih dikandung badan.

Itulah... sudah, sudah, nanti kepanjangan. Kalau ada lagi ya... saya sambung di episode depan yah? (emang sinetron?). Terimakasih banyak ya sudah mau membaca postingan yang jujur saja amburadul ini.

Jazakumullahu Khairan, dan semoga kita selaku umat Muslim selalu dibimbing menuju jalan yang benar. Amin ya robbal 'alamin.

Akhirul kata, billahi taufik walhidayah, wa ridho wa inayah...
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu... (hayo, yang nggak jawab dosa!)

 

Minggu, 16 Maret 2014

Half Clown

Tittle   : Half Clown
Genre : psychological, idk --"
Copyright :
Aku membuat cerita ini dengan ide cerita yang susah payah kudapat. Bukan cerita yang special memang, tapi untuk menuliskan kata-kata yang membuat pembaca bahagia adalah tantangan untukku. This is my work, my story, my piece of mind, so please don't steal it no matter what.
Inspired by song (nonsense speaker)

"Hey, Elise! Tahu tidak kalau hari ini aku akan mengikuti..."
Dan bla bla bla seterusnya. Itu yang selalu kudengar setiap hari, tanpa terkecuali.
Aku lelah menjadi penonton, aku lelah menjadi pendengar, aku bahkan sudah muak dengan semua yang kalian lakukan. Tak bisakah kalian biarkan aku sendiri?
Kumohon...
Tapi permohonan seperti itu adalah sia-sia. Mereka tidak akan membiarkanku sendiri, sekeras apapun aku mencoba.


Aku memandang secarik poster di papan pengumuman. Sebuah olimpiade tentang bahasa inggris. Aku belum pernah tahu tentang olimpiade serupa. Mungkin ada baiknya aku mencoba untuk ikut.
"Hey, Elise!" Sapa seseorang yang tak lain adalah Marry. "Apa ini? Lomba bahasa inggris? Ah, mendadak aku ingin mengikutinya!"
Dia lagi. Marry selalu menghampiriku yang sedang mengamati sesuatu. "Kau bisa mengikutinya kalau kau mau. Lagipula ini untuk umum." Balasku.
"Kau benar! Peluangnya pasti besar!"
Tolong jangan membicarakan peluang di depanku. Aku membenci itu. Tidak, aku bahkan membenci semua yang akan kau katakan setelah ini atau mungkin sebelumnya. Aku bahkan sedang tidak ingin di sampingmu. Bisakah kau pergi?
"Hey, mau kemana?" Tanya Marry.
Tidak berguna. "Ke suatu tempat." Jawabku. Dia pasti mengikutiku. Lalu pertunjukan di mulai...
"Tahu tidak, di rumah tadi sebelum berangkat, aku..."
Lebih tepatnya cerita pun di mulai. Hey, bolehkah aku menyumbat telingaku? Aku tidak ingin otakku menjadi ensiklopedia dari riwayat hidupmu. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku tidak ingin menyakiti seseorang. Lagipula, aku tidak yakin kau akan mau mengerti jikapun aku menjelaskannya. Bukankah kau selalu begitu? Menganggap kata-kataku tidak terlalu penting, entah kau sadar ataupun tidak.
"Apa kau marah padaku? Biasanya kau selalu tersenyum. Ah, aku benci ketika mood kamu seperti itu. Kau selalu seperti itu!" Ucap Marry.
Selalu seperti itu? Lucu sekali.
"Tidak, tidak. Aku hanya sedang sariawan. Terlalu sering tersenyum membuatnya jadi perih." Balasku seenaknya.


Keadaan di rumah tidak jauh berbeda, malah jauh lebih buruk. Namun meski begitu, aku lebih suka berada di sini sebab dengan begitu aku bisa mengunci diri.
"Ibu, Ayah, aku pulang!" Ucapku.
Tak ada suara, tak ada apa-apa. Seperti yang kuduga, di rumah tidak ada orang. Atau mungkin mereka memutuskan untuk pergi? Oh, kapan mereka pergi? Akhirnya mereka pergi juga, eh? Bukan kejutan.
"Tak ada buruknya." Gumamku.
Aku pergi ke kamar. Menyumbat telinga dengan headset, lalu memutar mp3 hingga tertidur. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Tidak ada yang lain.
Tuhan, kumohon...
Meski hanya sesaat, meski hanya lewat mimpi, tolong bawa aku pergi.
Tuhan sangat baik, Ia mendengar do'aku. Ia membawaku pergi ke dunia mimpi yang indah. Tempat yang sangat ingin kutinggali. Tapi sayangnya itu tidak berlangsung lama.
Suara keras pintu yang seperti didobrak itu membangunkanku. Dengan berat hati, aku keluar dari kamar untuk melihat siapa itu.
"Ibu kau sudah..."
"Diam! Masuk ke kamarmu dan lakukan apapun yang kau mau!" Makinya.
Oh, itu cara yang kasar. Kalau kau tidak suka kusambut, baiklah, tak apa. Katakan saja, dengan begitu mungkin aku tak perlu menyambutmu lagi jika benar itu yang kau harapkan.
"Aku akan di kamar jika kau butuh." Kataku kemudian, sambil menutup pintu.
Jika kau butuh.
Bukankah itu kata sederhana yang sebenarnya menyakitkan?
Tak lama setelahnya, dobrakan pintu kedua terdengar. Itu pasti ayah, terdengar sangat jelas.
"Pertunjukan di mulai." Kataku pelan.
Ayah dan ibuku bertengkar lagi. Mereka selalu bertengkar. Ada banyak hal yang mereka pertengkarkan. Terlalu banyak, hingga aku tak ingin membahasnya sekalipun. Walau kadangkala aku penasaran apakah mereka sadar bahwa aku ada di sini, mendengar semua yang mereka pertengkarkan, menjadi saksi bisu atas segala pertikaian. Sejujurnya jika mau, mereka bisa bercerai, membuangku, menelantarkanku dimanapun dan kapanpun. Tapi, kenapa mereka menahanku di sini? Jika diminta untuk pergi, dengan senang hati aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi di rumah ini. Jadi kenapa aku ditawan di sini? Aku lelah. Aku lelah menjadi penonton, aku lelah menjadi pendengar, aku lelah menjadi saksi bisu atas semua yang orang-orang lakukan. Aku lelah menjadi semua itu, aku lelah untuk berpura-pura aku tidak ada, aku lelah untuk marah, bahkan aku terlalu lelah untuk menangis. Sungguh aku sudah lelah.
Sebagai pelarianku dari kenyataan, aku selalu pergi mengunjungi khayalanku. Aku menulis semua cerita khayalan itu, bahkan membuat beberapa gambar, dan merancang sendiri sampulnya. Jika ini bisa membuatku merasa lebih baik, kenapa tidak?
Toh.. ini lebih baik daripada mengumbar aib pada buku harian. Lebih baik daripada mengoceh tak karuan lewat surel, blog atau.. entahlah. Masa bodoh dengan semua itu.
Betapa menyedihkan.



Di sekolah...

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menganggap dunia ini tidak adil.

"Maaf Nak, quota untuk sekolah kita sudah habis dan pendaftaran ditutup kemarin." Jelas ibu guru
"Oh, tidak apa-apa, ibu. Hahaha, salah saya karena sangat lambat."
Olimpiade yang selalu ingin kuikuti, lagi-lagi gagal kuikuti. Tuhan, katakan padaku kalau memang bukan ini jalan yang harus kutempuh. Tolong katakan bahwa aku masih punya kesempatan. Katakan bahwa semua akan baik-baik saja. Setidaknya itu akan menghiburku.
Aku menggambar senyum di jariku. Berpura-pura bahwa itu Elsie, salah satu tokoh dalam duniaku yang lain. Dunia khayalan. Dialah yang jadi penghibur untukku sejauh ini. Mungkin satu-satunya teman yang kumiliki dan yang kubutuhkan selama ini.
Jangan khawatir Elise. Aku akan menemanimu selalu. Tak perlu khawatir. Kalau waktunya datang, kesempatan yang sama pasti datang.
Sebut aku gila, karena mungkin aku memang sudah mulai kehilangan kewarasanku.
"Elise!" Panggil Marry yang mendadak muncul entah darimana. "Aku jadi ikut olimpiade yang kemarin." Lalu bla bla bla, seperti itu lagi.
"Bersama Nadia." Ucapnya.
Apa?
"Agak menyebalkan sih kalau dia ikut. Tapi daripada quotanya tidak penuh, jadi aku mengajaknya. Hehehe. Akui saja aku memang sangat pandai membujuk orang."
Kau memilih mendaftarkan Nadia yang sebenarnya tidak begitu tertarik? Jadi begitu.
Selalu membanggakan diri dan.. kau sudah seperti mengambil alih hidupku yang sudah nyaris tak berharga ini. Bagus. Sejauh inikah kau ingin menunjukkan betapa tidak bergunanya aku? Aku paham.
Tapi untuk menyembunyikan semuanya, aku tersenyum lebar. Berpura-pura untuk menjadi seperti orang gila, atau orang gila yang mengaku tidak gila. Yang manapun itu.
"Hahahaha..."
"Elise, apa yang kau tertawakan?" Tanya Marry.
Huh? Aku tertawa?
"M-maaf, mendadak aku teringat film komedi yang kutonton kemarin malam."
"Dasar kau..."
"Jadi, Marry, aku akan pulang lebih dulu. Sampai nanti."


Elise...
"Elsie?"
Kenapa kau melarikan diri?
"Aku tidak melarikan diri. Aku hanya menyadari tempatku, dan pergi."
Pembohong
"Oh ya, aku memang pembohong. Aku hanya pembohong yang kini menjadi seorang badut. Karena tidak ada yang kulakukan selain tersenyum dan tertawa."
Semua akan baik-baik saja.
"Elsie, ingin sekali aku ikut ke duniamu. Mungkin kita bisa melakukan sesuatu bersama. Mungkin bercengkerama bersamamu, teman-temanmu, dan keluargamu. Hahahaha... aku ingin tahu bagaimana mereka akan berpikir tentangku. Mungkin payah, bodoh, atau tidak berguna? Haha.."
Elise, hentikan.
"Maaf, aku tidak bisa berhenti. Hahahaha... sangat aneh, sangat aneh.. hahahaha!"
Elise sadarlah..
Elise hentikan!
Elise! Elise!
Erh..
"Apa yang kau lakukan, Elise? Cepat bangun! Ini sudah waktunya sarapan, bodoh! Harusnya kau sudah menyiapkan sarapan! Kenapa kau ini." Bentak Ibu.
Ternyata mimpi. Padahal akhirnya aku bisa berbicara banyak dengan Elsie. Dengannya yang terlihat seperti manusia sungguhan, bukan.. bukan seperti mereka, iya kan Elsie?
Aku menganggukkan kepalaku. Kemudian tersenyum tanpa kusadari.
Tiba-tiba, Plak!
Ibu menamparku dengan kerasnya. Oh, sepertinya kali ini akan meninggalkan bekas.
"Apa yang kau lamunkan, ha? Cepat pergi ke ruang makan, sekarang!" Perintah ibu yang kemudian berbalik memunggungiku.
"Hahaha, iya, ibu. Maafkan kebodohanku." Jawabku.
Ibu sempat memandangiku sinis sebelum meninggalkanku.
Dunia yang aneh. Mungkin Tuhan hanya terlalu baik. Satu dari sekian banyak jiwa yang ada, dan aku yang dipilih untuk tinggal di tempat ini. Maafkan aku, Tuhan tapi sepertinya aku hanya kurang baik.
Aku keluar dari ruang pengasinganku. Berbenah diri, lalu memasakkan sesuatu untuk orangtuaku.
"Makanan sudah siap!" Ucapku begitu selesai menyiapkan makanan. "Ibu, aku..."
"Pergi saja! Tak usah pamit segala. Lagipula kau sudah tidak dibutuhkan di sini." Maki Ibu.
Padahal bukan itu yang kumaksud.
Aku mengangguk, lalu tersenyum. Kemudian menengok ke ayah. Barangkali dia akan...
"Cepatlah pergi, dasar anak tidak berguna." Ucapnya penuh kebencian.
Ouh, aku salah...
Sepertinya mereka tidak ingin aku di dekatnya lagi.
Sama seperti biasa, ayah dan ibu memberiku sepuluh ribu yen masing-masing, untukku pergi bermain di luar sampai petang. Hahaha... mereka hanya tidak ingin diganggu. Pekerjaan mereka pasti berat sekali.
"Terimakasih, aku pergi."


Aku berjalan gontai menuju mini-market langgananku yang letaknya di seberang. Itu artinya aku harus melewati jembatan itu.
Ah, fisikku agaknya mulai melemah, di tambah perut yang terus meronta-ronta.. rasanya sangat.. entahlah. Aku tidak tahu, dan aku kembali tertawa kecil.
Aku memang belum makan apapun sejak dua hari yang lalu, selain dua mie instant. Mungkin selama ini aku terlalu banyak makan mie? Hahaha, sudahlah, yang penting makan. Lagipula ayah dan ibu enggan makan bersamaku.
Keduanya pasti cepat pergi ketika selesai, seolah mereka hanya singgah di warung kecil untuk makan saja. Tidak lebih. aku sendiri jarang berkesempatan memakan masakanku sendiri. terdengar konyol memang.
Persediaan makanan hanya cukup untuk ayah dan ibu, dan mereka jarang pulang sehingga aku tidak punya uang. Mini-market langgananku itu sebenarnya juga tempatku bekerja paruh waktu. Tapi begitu ayah mengetahuinya, aku terpaksa harus berhenti. Katanya tidak pantas orang sepertiku bekerja sambilan. Tidak berguna, bodoh, payah, dan menyusahkan. Membuat malu nama keluarga. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa mendebat ayahku.
"Elsie, kenapa perjalan ke mini-market mendadak begitu sulit seperti ini?"
Bertahanlah Elise. Tak apa, aku selalu di sampingmu. Jangan khawatir. Nanti setelah sampai di sana, sebaiknya kau membeli sesuatu untuk dimakan.
Kuharap begitu. Tapi aku mendapat firasat buruk. Sepertinya aku tidak akan sampai ke tempat manapun.
Firasatku benar. Seseorang yang mengendarai sepeda motor mencuri tasku dengan paksa. Membuat fisikku yang lemah ini semakin tak bisa menjaga keseimbangan, dan akhirnya jatuh ke sungai yang kebetulan alirannya cukup deras.
Arus membawaku pergi. Di tambah tubuhku yang terasa begitu lemah, aku bahkan tidak punya kekuatan untuk menepi.
Elise! Elise!
"Jangan khawatirkan aku, Elsie. Aku akan baik-baik saja, tenang."
Tapi kau bisa mati!
"Bukankah sejak awal aku tidak pernah ada? Tidak dianggap, lebih tepatnya."
Elise!
Kau bahkan hanya sebuah khayalan, Elsie. Khayalan dari diriku yang menyedihkan ini. Meski begitu, entah kenapa aku merasa cukup bahagia.
"Hey, kalau aku bisa ke duniamu, ayo kita main?"
Aku memandang sosok khayalanku, Elsie, di atas jembatan. Setelah kupikir-pikir, sosoknya hampir menyerupaiku. Sosoknya semakin lama semakin kabur dan menjauh.
Sial, kesadaranku mulai berkurang.
Tubuhku hanyut bersama arus sungai kecil ini. Meski begitu aku masih saja tersenyum dan tertawa seolah tidak ada yang terjadi. Ah ya, benar...
Sebut aku gila atau apa, karena mungkin aku memang sudah kehilangan kewarasanku.
Kemudian setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Aku memejamkan mata. Biarlah arus membawaku pergi, hilang dari muka bumi.

Sabtu, 15 Maret 2014

Journal #03

Journal #03 - Never Stop Run

Assalamu'alaikum untuk saudara saudari muslim dimanapun  kalian berada! ^^

Hai!
Apa kabar?

Sekarang saya mau ngomongin soal "Never Stop Run" dimana artinya adalah jangan berhenti berlari, dan dengan istilah lain yang berarti jangan berhenti berusaha.

Why? Why we have to stop anyway? Kenapa kita harus berhenti ketika kita bisa? Ini adalah pelajaran berharga untuk kita. Terutama untukku yang terkadang lengah, lelah, dan seringkali kehilangan arah.

Aku sadar, di dalam diriku tidak ada keberanian seperti para pejuang perang yang gugur syahid, dan aku sangat iri. Mungkin tidak seberani kalian, orang-orang yang dengan ikhlas membaca blog yang kupikir tidak begitu jelas ini. Tapi aku sadar, sebagian dari diriku ingin memberontak. Melawan sekuat tenaga bisikan setan yang sejatinya membawa petaka. Bisikan yang membuat kita malas, jengah, atau apalah. Aku percaya sisi itupun ada dalam diri kalian. Dan aku ingin kalian untuk memperjuangkannya pula.. aku ingin aku, kau, dan kita semua untuk melangkah. Jangan berhenti lagi, atau kalian akan tertinggal. Bahkan kali ini mungkin seseorang tidak akan bisa meraih kalian. Jadi, dirimu, ya dirimulah yang harus berusaha. Jika ingin ditolong, maka tolonglah orang lain, dan tolong dirimu sendiri.

Untuk tipikal orang seperti ini (sepertiku, hahaha), kata-kata motivasi tidak akan cukup karena itu tidak akan memberikan banyak efek. Tapi! Sebuah nasehat mungkin akan berhasil, terutama jika nasehat itu dari dirimu sendiri dan untuk dirimu sendiri.

They said.. "Mindset itu adalah kekuatan terbesar dari dalam manusia. Bisa membantumu, atau bisa juga membunuhmu."

And I'll said.. "Jika orang lain bisa baik-baik saja dengan atau tanpa keberadaanmu, jadi kenapa kau harus terganggu oleh dirimu sendiri? Kenapa harus membunuh dirimu sendiri dengan mengatakan betapa rendahnya dirimu ketika kau bisa berusaha dan membuat orang lain terbelalak kaget dengan kesuksesanmu?"

Kenapa harus berhenti sekarang?
Why? Why?
Bisa kau katakan kenapa?

Aku pun dulu sering mengalah. Menyembunyikan diri, minat, bakat, apapun yang bisa kusembunyikan termasuk hawa keberadaanku (jika perlu). Tapi apa?

What next?

Apa dengan begitu aku bisa mendapatkan cita-cita yang kuimpikan? Tidak. Tidak akan. Mungkin aku memimpikan "A", mungkin jika beruntung aku akan mendapatkan "A", tapi... sangat mungkin aku hanya mendapat label "A" dan bukan huruf "A"

Lalu bagaimana?
Jika tidak berusaha, mungkinkah aku mendapat sesuatu yang kuinginkan? Tidak. Tuhan mungkin juga akan membenciku jika aku melakukan hal yang demikian.

Jika kita masih mengeluh dengan apa yang kita punya, dan tak mau berusaha... kenapa kita tidak bertukar nyawa saja? Di luar sana ada banyak orang yang ingin hidup makmur dan rela bekerja MATI-MATIAN hanya untuk bertahan hidup. Lalu apa yang kita lakukan di sini? Malas, jengah, bosan, hanya ingin bermain, tidak ingin bekerja tapi hidup enak? Bermimpilah! Tidakkah kita berpikir betapa rendahnya kita jika demikian? Pula, itu berarti nerakalah yang kita tuju. Naudzubillahimindalik.

Ingatlah semuanya...
"Tidak ada kebaikan yang di dapat dengan mudah. Kebaikan itu kita dapatkan sebagai upah dari sebuah jerih payah. Jika kita tidak mau berusaha sedikitpun, pantaskah kita mengharap Tuhan mengupah kita dengan kebaikan? Kau boleh berharap, tapi jangan harap itu serta-merta terjadi."

Terdengar sedikit jahat dan brutal, memang. Tapi... seperti inilah nyatanya. Benar?

Journal #03 berakhir di sini! Terimakasih sudah mengunjungi secarik journal kecil ini! Terimakasih! Datang lagi, ya! •﹏•

Senin, 10 Maret 2014

Waiting to See You!

Tittle   : Waiting to See You!
Genre : real life, friendship, idk --"
Copyright :
Aku membuat cerita ini dengan ide cerita yang susah payah kudapat. Bukan cerita yang special memang, tapi untuk menuliskan kata-kata yang membuat pembaca bahagia adalah tantangan untukku. This is my work, my story, my piece of mind, so please don't steal it no matter what.

Gadis itu selalu terduduk di sana, sendirian di dekat sungai. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di sana, tapi sudah jelas bahwa ia tengah menunggu seseorang.
"Hey, Sotaru!" Panggil Kemachi, temanku.
"Apa yang kau lakukan di sana? Ayo cepat kita pulang! Aku tidak mau dimarahi ibuku!"
"Baiklah." Jawabku sederhana.
Aku menatap gadis itu untuk beberapa saat. Sepintas ada rasa khawatir ketika hendak meninggalkannya pergi. Tapi toh, setelah kupikir-pikir, kenapa aku harus khawatir? Dia di sana atas kemauannya sendiri, bukan? Lagipula aku pun tidak mengenalnya. Tapi... Argh! Ini membingungkan.
"Mudah-mudahan ia baik-baik saja!" Dengusku.
"Apa? Kau mengatakan sesuatu, Sota?" Tanya Kemachi.
"Tidak. Bukan apa-apa."

Sore berikutnya ia kembali ada di sana. Duduk menghadap sungai, menantikan seseorang yang aku sendiri tidak tahu siapa gerangan yang ia nantikan. Tapi ia tampak kesepian, entah kenapa. Kuharap aku bisa menemaninya.
Meski sedikit gugup, aku menghampirinya. Kuharap ia tidak kaget melihatku. Maksudku, orang aneh mana yang tiba-tiba ingin duduk menemaninya. Ah, benar, orang aneh itu adalah aku.
"Hey, apa aku boleh duduk di sini?" Tanyaku.
Ia hanya mengangguk.
Suasana menjadi begitu hening dan canggung. Aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan. Sepertinya ia pun bukan tipikal orang yang mau berbicara banyak.
"Hmm... namaku Sotaru Heiga. Kau bisa memanggilku Sota, kalau kau mau." Ucapku.
Ia hanya diam sambil memandangiku. Lalu beberapa saat kemudian ia berdiri lalu mengambil sebuah ranting kering, kemudian menuliskan namanya di tanah.
Ruka Kyokari
Ruka eh? Nama yang bagus. "Boleh aku memanggilmu Ruka?"
Gadis itu mengangguk. Kemudian menuliskan sesuatu di tanah.
Senang berkenalan denganmu.
Sebenarnya itu adalah cara yang aneh untuk mengobrol. Tapi baiklah, jika itu keinginannya. Aku harus hargai itu.

Sejak saat itu, tanpa sadar aku selalu mengunjunginya. Menyenangkan juga bisa mengenal teman baru. Yah, meskipun metode pembicaraan kami belum berkembang sama sekali.
Pembicaraan kami tidak pernah sepanjang yang kuharapkan. Hanya satu, atau dua kalimat, lalu seterusnya hanyalah diam berkepanjangan.
"Kau tahu, kau selalu seperti itu. Mungkin akan lebih menyenangkan jika kau mau bersuara." Ucapku. Dia hanya menatapku dengan tatapan itu. Tatapan datar yang seolah ia terlalu bosan untuk melakukan sesuatu.
"Meski hanya sepatah kata." Desahku.
Bodohnya aku, kenapa pula aku memintanya begitu. Pasti terdengar seperti orang yang memohon-mohon. Ugh...
Terimakasih...
Sepertinya tadi aku mendengar suara. Tidak mungkin. Tapi mungkinkah?
"Apa kau..."
Gadis itu mengangguk, yang kali ini disertai dengan senyuman manis. Akhirnya! Entah sudah berapa lama aku mengharapkannya.
Sreet..sreett..
Ruka mulai menuliskan sesuatu..
Aku punya misi untukmu, maukah kau melakukannya untukku?
"Tentu saja! Akan kulakukan apapun yang bisa kulakukan untukmu, Ruka!"
Syukurlah
"Jadi, apa misinya?"
Akan ada seorang gadis cantik seusiaku, mampir ke kota ini untuk mencari sesuatu. Kebetulan sesuatu itu ada padaku. Bisa kau antarkan dia kemari?
Sesuatu, eh? Mungkinkah sesuatu itu bersifat penting?
Bodoh sekali aku, tentu saja sesuatu itu penting. Jika tidak, mana mungkin ia akan memberiku misi semacam ini, bukan? Lagipula sangat jarang untuknya meminta bantuanku. Mungkin ini adalah kabar baik? Entahlah. Tapi aku senang ketika ia bisa tersenyum seperti itu.
"Baiklah. Bisakah kau gambarkan padaku seperti apa rupanya?"
Sejujurnya sudah lama aku tidak melihatnya. Aku tidak yakin. Tapi jangan khawatir, kau pasti bisa menemukannya karena ia mirip denganku. Namanya Rika.
Kembar?!
Dugaanmu benar. Kami kembar.
Heh? Apa tanpa sadar aku mengatakannya dengan lantang?
Oh bukan. Dari susunan katanya, itu tadi hanya sebuah asumsi.

Keesokan hari, kebetulan sekolahku libur jadi aku memutuskan untuk bermain ke rumah Kemachi. Sudah cukup lama aku tidak kesana, apa dia punya video games baru yang bisa kumainkan?
Sampai di rumahnya, aku melihat satu rak penuh berisi dvd permainan yang baru.
"Beginikah rasanya jadi anak dari seorang jutawan?" Gumamku
"Yosh, Sota! Kutantang kau untuk berduel denganku. Kalau kau menang, akan kuberikan kau 4 video games dari rak itu. Bagaimana?"
Tawaran yang menarik. "Aku menolak."
Kemachi tampak sedikit terkejut. "Hey, apa kau ini bodoh?" Ketusku. "Aku tidak punya peralatan mahal seperti ini di rumahku. Lagipula tidak mungkin ayah mengizinkanku untuk beli."
"Oh ya, kau benar. Maaf." Balasnya sedikit tertunduk.
"Sudahlah, ayo kita main!"
Kami pun bermain dengan penuh sukacita. Kemachi terus mengajakku berduel. Sepertinya dia belum mau mengakui kekalahannya. Hahaha, dia lupa kalau aku ini jago dalam permainan duel. Aku pernah menghabiskan uang jajanku untuk bermain di tempat rental. Rental yang sangat mahal, mana pemiliknya agak pelit. Huft.
"Baiklah, sudah 8 kali menang tipis, 3 kali seri, dan 9 kali menang telak dalam 2 game shooting, dan 3 game action-duel. Apa kau belum bosan untuk kukalahkan?" Ucapku dengan bangganya.
"Aku sengaja membuatmu menang dengan mudah!"
Benarkah? Padahal aku sudah cukup mengalah darinya. Tampaknya dia memang orang yang payah dalam permainan, dan enggan untuk mengakui. Hahaha.. ah, ya Tuhan, betapa sadisnya aku.
Aku menoleh ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 10.00. Itu artinya tanpa sadar kami sudah bermain selama dua jam. Cukup menyenangkan juga.
"Baiklah, Machi-machi chan!" Panggilku setengah mengejek. "Sotaru-sama harus pergi dulu karena ada urusan."
"Oh, kau tidak ingin menyelesaikan sisa games di sini?"
"Tidak. Mungkin lainkali. Aku sedang ada misi dari Ruka."
Kemachi tampak diam sejenak. Sambil mengunyah permen karetnya, ia menatapku dengan seksama.
"Kau tahu, aku lebih suka untuk tetap diam. Tapi sungguh, aku tidak melihat apa-apa. Walaupun benar ada, sekilas kau tetap dianggap gila." Katanya sambil kembali memalingkan wajahnya ke arah video games.
Apa yang dia bicarakan, dan apa pula maksudnya dengan tidak melihat apa-apa?
"Apa ma-..."
"Cepatlah pergi! Jika benar ada misi, maka kau harus selesaikan itu segera!" potong Kemachi. "Sebelum terlambat." Imbuhnya.
Aku tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan. Namun... ah, sudahlah. Aku memang harus pergi.
Kemana aku harus pergi? Mungkin sebaiknya aku berjalan-jalan ke kota sebentar? Mungkin aku akan menemukan tempat yang ingin ku kunjungi. Sudahlah. Yang terpenting sekarang, bagaimana caranya agar aku bisa menyelesaikan misiku? Lalu apa yang dimaksud Kemachi dengan sebelum terlambat? Ya Tuhan, ini membingungkan.
Sambil terus berjalan, akhirnya aku sampai ke kota. Sayangnya, aku masih belum yakin kemana aku harus pergi. Hingga akhirnya kuputuskan untuk pergi membeli coklat stik dan memakannya di bangku, di pinggir jalan.
"Apa yang sebenarnya kulakukan disini?" Gumamku.

"Ehm, permisi... apa boleh saya duduk di sini?" Tanya seorang gadis.
Tanpa benar-benar memperhatikannya, aku hanya mempersilakannya duduk. Hanya untuk menjaga etika saja.
Gadis itu kemudian mulai berceloteh ini dan itu. Aku mengerti jika kebanyakan perempuan gemar sekali mengeluh, tapi untuk melakukannya di depan orang asing, tidakkah itu konyol?
"Maaf karena membuatmu harus mendengar semua celotehanku tadi. Sepertinya aku harus pergi." Pamitnya.
Kali ini aku mulai memperhatikannya. Ketika ia selesai membungkuk dan mulai berjalan pergi, aku baru sadar bahwa ada sesuatu yang begitu familiar dari dirinya. Wajahnya. Aku merasa mengenal wajah itu.
Oh benar, wajah gadis itu mengingatkanku pada Ruka. Sangat mirip. Jangan-jangan... oh mungkinkah? Maksudku, ya, tentu saja mungkin!
Sial, dia sudah melangkah cukup jauh. Mau tidak mau, aku harus berlari mengejarnya.
"Tunggu!" Ucapku sambil meraih lengannya.
"A-apa namamu Rika?" Tanyaku sambil mencoba mengatur nafas.
"Ya, bagaimana kau tahu? Aku tidak merasa pernah memperkenalkan diri padamu."
Ah, dia memang benar. Tapi pasti akan merepotkan untuk menjelaskannya.
"Ruka yang memberitahuku. Kau adiknya, bukan? Bisa kau ikut denganku? Dia ingin menemuimu." Jelasku.
"Tapi bagaimana kau..."
"Detailnya akan kuceritakan saat kita sudah sampai. Jika kau tidak keberatan." Potongku seenaknya.

Aku membawanya menuju tempat dimana Ruka selalu duduk dan menunggu. Tapi begitu sampai, orang yang kucari tidak ada di sana. Ini aneh. Di setiap jam yang sama, ia duduk di bangku itu menunggu seseorang sembari menyaksikan terbenamnya sang surya.
Kupikir kau ingin melihat adikmu lagi. Batinku.
"L-lepas!" Teriak Rika. "Apa maksudmu kau akan membawaku pada kakakku. Apa kau gila?"
"Kakakku sudah meninggal hampir satu tahun yang lalu." Imbuhnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Apa?
Ruka sudah... kau pasti bercanda!
"Tolong ceritakan padaku." Pintaku kemudian.
Rika lantas menceritakan segala hal tentang Ruka.
Kembarannya itu (Ruka) adalah tipikal gadis yang akan senantiasa tersenyum, meski ia tertimpa hal terburuk sekalipun. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan, sehingga baik Ruka maupun Rika harus tinggal bersama sang ibu. Hingga suatu hari, seseorang berniat mengadopsi keduanya. Tapi Ruka menolak untuk pergi. Ia memutuskan untuk tinggal bersama ibunya.
Naasnya, sang ibu yang kondisinya semakin lama semakin lemah karena terlalu memaksakan diri, akhirnya pun meninggal dunia.
"Aku tidak tahu bagaimana kabar kakak sejak saat itu. Yang kutahu, 7 tahun kemudian aku memutuskan untuk kembali kemari, mencari Ruka. Aku tahu itu adalah selang waktu yang cukup lama, tapi aku tidak punya pilihan, dan aku hanya ingin mengajaknya tinggal bersamaku."
Rika mulai menangis sesenggukan. Air matanya berlinang, membasahi wajahnya yang mulai tampak sedikit pucat.
"Hey, jangan menangis." Hiburku sambil mengusap air matanya. "Apa yang terjadi setelahnya?"
Ia menatap sungai yang mengalir. Siluet kecil yang jika aku tidak salah adalah siluet yang disukai Ruka.
"Aku mendengar kakakku sudah meninggal. Aku tidak tahu bagaimana kisahnya, tetangga-tetangga di sekitar rumahnya menolak untuk memberitahu. Mereka bilang, mereka sudah berjanji pada kakak untuk tidak memberitahu secuil pun tentangnya."
Begitu. Aku mengerti. Sepertinya yang Ruka inginkan hanyalah agat Rika tidak perlu sedih akan kepergiannya nanti. Ia pasti sudah berpikir bahwa Rika mungkin akan menyalahkan dirinya sendiri jika ia tahu. Tapi untuk pergi tanpa satu kata pun... bukankah sama saja?
Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Ruka? Apa kau ingin membuat Rika terombang-ambing seperti ini?
Tak lama kemudian, angin berhembus cukup kencang hingga terdengar suara ranting terjatuh. Spontan saja aku menoleh. Aku melihat sebuah tulisan di dekat pohon itu. Apakah itu tulisan yang Ruka buat?
Sota, tolong kau gali tepat di titik ini. Kumohon.
Huh?
Ternyata benar, ini tulisan Ruka.
Tanpa membuang banyak waktu, aku menggali tanah persis di titik yang dimaksudkan Ruka.
"Hey, apa yang kau lakukan?" tanya Rika.
"Diamlah sebentar. Ini adalah permintaan kakakmu."
Tak lama kemudian, aku menemukan sebuah kotak berukuran sedang. Kotak itu lantas kubawa dan kuberikan pada Rika. Mungkin memang ada suatu penjelasan yang sengaja Ruka tinggalkan di kotak itu. Entahlah. Tapi tidak ada salahnya untuk berharap.
Krakk! Rika mulai membuka kotak itu. Seperti yang sudah diduga, di dalamnya ada sebuah surat dan... apa ini? Sebuah syal yang dibungkus dengan begitu rapi.
Untuk adikku, Rika.
Hey, bukankah ini hari jadimu? Lihat aku membelikanmu sebuah syal yang cukup indah dan lembut. Meskipun tidak bisa seindah segala sesuatu yang kini bisa kau miliki dengan mudah. Tapi kuharap kau menyukainya. Oh, maaf juga aku hanya bisa memberi syal ini, padahal ulang tahunmu sudah terlewat tiga kali, ya? Maafkan aku, aku memang kakak yang kurang baik.
Sejujurnya, aku berniat untuk mengunjungimu dan memberikan hadiah ini secara langsung. Tapi uangku masih kurang sedikit lagi. Hahaha... jangan khawatir. Aku akan berusaha memberikan hadiah ini untukmu, apapun yang terjadi. Sebab kau adalah adikku yang sangat berharga.
Kau tahu, aku juga menulis catatan-catatan kecil berisi banyak hal yang ingin kubagikan padamu. Karena takut akan lupa, aku menyertakannya di dalam kotak ini. Kita akan membacanya bersama-sama, oke? Hehe.
Astaga, sepertinya aku berbicara terlalu banyak untuk ukuran "ucapan selamat ulang tahun". Hahah. Maafkan aku.
Ngomong-ngomong, apa kau ingat janji kita waktu itu? Suatu saat, kita akan bertemu lagi di sini. Tempat yang sering kita kunjungi sesaat ketika kita masih kecil, tempat untuk sekilas melihat indahnya matahari terbenam. Aku masih menyukainya.. hehe. Dan untuk tidak membuatmu tidak menunggu, maka aku memutuskan untuk menunggumu di sini. Aku akan selalu di sini, menyambut kedatanganmu dengan bahagia.
Peluk hangat
Ruka Kyokari
Rika kembali menangis begitu selesai membaca surat tersebut. Jadi itu alasan kenapa Ruka selalu ada di sini, seorang diri. Ia sesekali tersenyum sambil melihat terbenamnya matahari.
Jadi, inikah yang kau tunggu selama ini, Ruka?
Ah, jujur saja... jika itu aku, aku mungkin tidak akan tahan untuk menunggu selama ini. Aku mungkin akan pergi. Tapi kau... kau senantiasa di sini.
Angin kembali berhembus. Kali ini hembusannya terasa begitu lembut.
Terimakasih Sotaru...
Ah, suara Ruka.
Akan kuberitahukan padamu, tapi jangan beritahu Rika. Aku pun meninggal karena kecelakaan. Saat itu aku sedang sakit cukup parah, dan truk itu... sepertinya hilang kendali. Tapi beruntungnya aku berhasil menyelamatkan seorang anak kecil yang hampir saja menjadi korban sepertiku. Syukurlah...
"Jadi kau..."
Iya
"Kenapa kau memberitahuku, dan bukannya memberitahu Rika?"
Kau sudah tahu alasannya...
Ck, apa yang sebenarnya ia pikirkan?
Terimakasih banyak, Sota. Selamat tinggal...
Aku hanya bisa tersenyum.
"K-kakak...?" Ucap Rika sedikit terkejut.
"Apa kau sejak tadi melihatnya?" Tanyaku. Sedikit khawatir kalau-kalau ia menyadari pembicaraan singkatku dengan Ruka.
"Tidak. Aku baru melihatnya. Itu.. bukankah itu kakak?" tanyanya lagi, kemudian ia mulai memanggil-manggil Ruka.
Aku tahu, kesedihan itu memang tak tertahankan. Tapi... ah, sudahlah.
"Relakan dia dengan senyuman. Kuyakin itu yang dia mau." Kataku yang entah sejak kapan mulai terdengar cukup bijak.
"Baiklah.." dia mencoba tersenyum meski air matanya masih saja mengalir.
"Selamat tinggal, kakak! Terimakasih atas semuanya. Aku juga menyukai hadiahmu. Aku janji aku akan menjaganya sebisaku! Baik-baiklah di sana, sampaikan salamku pada ayah dan ibu, dan.. dan..." ia memotong kata-katanya sendiri.
"D-dan seandainya kau tak harus pergi."
Maafkan aku, Rika. Terimakasih sudah mau menerimaku sebagai kakakmu.
Suatu saat kita akan bertemu lagi.
Ruka memeluk Rika untuk beberapa saat, kemudian pergi bersama hembusan angin.
Jadi begini akhirnya... Rika mendapat hadiahnya, dan Ruka mendapatkan perpisahannya.
Dan aku...?
Menjadi penonton pun cukup menyenangkan. Selamat jalan, Ruka. Kini kau tak lagi harus menunggu.

Minggu, 09 Maret 2014

Journal #02

Journal #02 - Prasangka Baik

(Assalamu'alaikum bagi saudara saudari muslimku di seluruh dunia, dimanapun kalian berbeda)

Hai! Apa kabar?

Lagi, aku akan menulis beberapa tulisan di sini. Ya.. mungkin bukan tulisan yang wow, spektakuler atau apapun itu. Tapi aku senang kalian mau membaca.

Aku ingat beberapa waktu yang lalu temanku bertanya :
"Yang mana yang kau lakukan? Menulis yang penting, atau yang penting menulis?"

Menurutmu? Ya, kau benar. Jawabannya adalah yang penting menulis.

Untuk beberapa alasan, pertanyaan itu adalah pertanyaan yang kasar. Aku tidak akan memberitahumu alasannya •﹏• tapi, itu benar. Maksudku, kau tak harus bertanya jika kau sudah tahu jawabnya bukan?

Di dunia ini ada banyak tipe orang di dunia (tidak berniat menyebutkan semuanya), salah satunya adalah tipe orang yang secara terbuka mengatakan maksudnya. Orang-orang seperti itu biasanya sangat kurang pandai mengontrol rasa ingin tahu miliknya. Akibatnya, ya itu dia, he said what he wanted to say.

Cara terbaik untuk menghadapi prang seperti ini adalah dengan berprasangka baik. Jangan terlalu cepat membuat asumsi. Oke, baiklah, bukan hanya pada tipe orang yang terlalu blak-blakan. Tapi pada semua orang, di setiap waktu, dan kejadian. Ingat : Tuhan tahu mana saja yang baik untuk kita.

Berprasangka baik adalah suatu kekuatan / energi tersendiri dalam kehidupan. Ia lebih mirip seperti sebuah do'a. Seperti ketika kalian takut untuk gagal, maka kalian akan gagal dengan sendirinya. Dan ketika kalian berjuang sekuat tenaga dan optimis, maka kemungkinan kalian untuk memenangkan sesuatu lebih besar. Iya kan?

Seperti itulah. ^^ Try to think possitive.

Hmm... agak menggantung sih. Tapi...

Journal #02 berakhir di sini! Terimakasih sudah mengunjungi secarik journal kecil ini! Terimakasih! Datang lagi, ya! •﹏•

Senin, 03 Maret 2014

Journal #01

Journal  #01 - Ucapan

HALO SEMUA!
(Assalamu'alaikum untuk Kalian saudara-saudariku Muslim di seluruh dunia! Bagaimana kabar kalian?
Oh ya, jangan lupa baca basmallah di setiap melakukan aktivitas ya... supaya Allah ridha, dan membantu kita dalam setiap urusan. ≧﹏≦)

Bismillahirrohmannirrohim...
(Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

Hai lagi! Izinkan aku berbagi secuil jurnal ini untuk kalian! ≧﹏≦

Ucapan... ucapan...
Suatu kata yang keluar dari mulut kita, entah sebagai kawan atau lawan. Kenapa kukatakan seperti itu?
Ucapan baik akan menjadi kawan bagimu, karena dengan ucapan seseorang bisa menghentikan perselisihan. •﹏• seperti kata orang, semuanya bisa dirembug dan diselesaikan dengan jalan damai. •﹏• Yang seperti ini dianggap lebih memiliki etika, mengurangi keributan tidak penting, dan... hehe, akui saja kalau itu memang lebih diplomatis. Ucapan yang baik pun bisa menjadi angin semilir yang membelai dan menyejukkan hati (daaah, sok puitis). Intinya : ucapan yang baik akan membuat orang lain merasa "lebih" baik. Dan siapa tahu dengan ucapan yang baik pula seseorang mendapatkan nikmat yang luar biasa seperti hidup harmonis, punya teman, dipercaya, dan lain sebagainya.
Sedangkan...
⇨ Ucapan buruk akan menjadi lawan yang bukan hanya bagi dirimu saja, tapi juga bagi orang lain. •﹏• Pepatah mengatakan : "Mulutmu adalah harimau bagimu, yang akan menerkam kepalamu."•﹏• Dari pepatah itu saja sudah jelas bahwa ucapan yang keluar dari lisan kita bisa menjadi pedang bermata dua. Karena ucapan itu tak hanya akan menyakiti hati orang lain, ia pun akan menyakiti kita pula cepat atau lambat (sebagai konsekuensi? Oh ya, tentu saja). Sebab itulah ada pula yang mengatakan "adakalanya orang bisu jauh lebih baik daripada orang yang bisa bicara." Jadi, ucapan buruk itu pasti memperburuk keadaan.

Sekilas itu tadi tentang ucapan. Kenapa berbelit-belit sekali? (Uuhh, pertanyaan yang menyakitkan ﹋o﹋. Ah, tidak, aku bercanda. Hahaha... apa kalian mengerti? Tidak? Ah, sepertinya itu lebih menyakitkan. •﹏•)

Kesimpulannya : kita harus menjaga lisan kita.
Itu adalah sebuah ke-ha-rus-an alias keharusan. Bagaimana caranya? Apakah dengan hanya diam saja? Bukan!
Mentang-mentang diam itu emas, bukan berarti harus diam saja sampai-sampai jadi anti-sosial (hey, kita ini makhluk sosial, ingat? Tidak bisa hidup sendiri. Kalau ingin bukti, coba saja untuk tidak memakai produk dari orang lain. Tidak baju, tidak kendaraan, perabot ataupun makanan. Juga dengan kata lain jangan ke mall, supermarket, wahana bermain, ataupun tempat-tempat lain. Bisa? •﹏•). Tuhan menciptakan lisan untuk kita agar kita bisa berkomunikasi, kalau kita tidak menggunakannya maka sama seperti menyia-nyiakan karunianya. Cara termudah, di sisi lain juga "tersulit" yang bisa kita lakukan untuk menjaga lisan kita adalah dengan mengucapkan yang baik-baik dan seperlunya saja.

Kalau sedikit-sedikit menggosip, menggunjing, membicarakan keburukan orang lain, hmm... jangan heran kalau suatu saat Anda bisa menjadi sampah masyarakat karena menjadi tukang ghibah (kejamnya... tapi ini benar). Jangan salahkan siapa-siapa juga jika suatu saat Anda tidak akan hidup tentram di dunia dan akhirat.

Tidak ketinggalan...
Setiap ucapan yang terucap akan terhitung sebagai janji, meskipun kau tidak mengatakan "janji" itu sendiri.

Jadi, berhati-hatilah ketika hendak berucap. Lidah mungkin tidak bertulang, tapi ucapan yang dikeluarkan mungkin saja beracun. Jadi, berhati-hatilah dalam berucap. Ingat... ucapan itu bisa saja terhitung sebagai sebuah janji meski kau tidak mengatakan janji, dan janji itu adalah hutang yang harus dibayar.

Oh, aku punya beberapa kata-kata yang kukutip dari sampul buku milikku :
"You recognize bird from their sing, you do people from their talk!"

Artinya : "Kau mengenali burung dari kicauannya, kau (pun) mengenali orang lewat ucapan mereka."

Journal #01 berakhir di sini! Terimakasih sudah mengunjungi secarik journal kecil ini! Terimakasih! Datang lagi, ya! •﹏•